Salah satu tersangka, MRN, sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Dia mengaku beraksi mencuri kabel karena pernah melihat pembongkaran trotoar di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan. Saat pembongkaran trotoar itu dia melihat ada untaian kabel lama.
Dia kemudian bersama tersangka lain selama dua hari membongkar kabel di saluran air tersebut. Aksi pencurian ini pun dilakukan secara berkala selama delapan bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MRN menyatakan mencuri kabel didorong motif mencari keuntungan. Kabel lama yang terdapat digorong-gorong itu dikupas kulitnya. Kemudian bersama teman-temannya mengambil tembaga dan menjualnya Rp40 ribu per kilogram sedangkan timah yang diambil terjual Rp12 ribu per kilogram.
Mereka menggunakan gergaji besi untuk memotong kabel yang berukuran 30 centimeter hingga dua meter. Setelah itu mereka mengupas kulit kabel dan mengumpulkan batang tembaga dan bungkus timah di dalamnya.
"Mereka masuk ke saluran kemudian membobol kabel dalam tanah. Di situlah mereka kupas kulit kabel dan mengambil isinya," katanya.
Kemudian kabel berupa tembaga dan timah tersebut diangkut menggunakan gerobak oleh tersangka lain yang sudah menunggu di atas saluran. Untuk memudahkan pengangkutan, para tersangka menyambungkan isi kabel ke lubang angin trotoar.
Sementara itu Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mujiyono mengatakan para tersangka menjual hasil curian mereka pada pengepul besi tua di kawasan Kemayoran, Senen, Tanah Abang, dan Manggarai. Ia pun memastikan sampai saat ini belum ada unsur sabotase dalam penemuan sampah kulit kabel di Jalan Medan Merdeka Selatan.
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyatakan ada dugaan terjadinya sabotase banjir terkait penemuan tumpukan sampah kulit kabel. Sampah kulit kabel yang ditemukan di gorong-gorong dekat kantor Menteri Energi Sumber Daya Mineral ini membuat genangan air di sekitar lokasi itu saat hujan. (yul)