Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Tata Irawan ketika dihubungi CNNIndonesia.com dari Jakarta mengatakan, petir mulai menyambar, menunjukkan pertanda hujan deras.
"Mudah-mudahan tidak hujan, ini saja sudah mendung, petir lagi," kata Tata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di pemukiman masih seperti tadi pagi sebenarnya. Titik tertinggi seperti di Bojong bisa sampai tiga meter, di kompleks perumahan air sampai genting," ucapnya.
"Karena sebelumnya belum pernah di Dayeuh Kolot, di depan kantor kecamatan itu 30-40 sentimeter," kata Tata.
Penyebabnya, kata Tata, adalah hujan berbarengan di Bandung dan beberapa dataran tinggi di Jawa Barat, seperti seperti Garut dan Sukabumi.
Sementara itu, ketika ditanya soal kabar korban jiwa dan orang hilang akibat banjir, Tata enggan berkomentar. "Saya dari kemarin di lokasi belum ada informasi itu, jadi saya belum bisa kasih pernyataan."
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan daerah tersebut adalah Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Pameungpeuk, Banjaran, Arjasri, Cangkuang, Katapang dan Kutawaringin.
Sebanyak 5.900 kepala keluarga yang terdiri dari 24 ribu jiwa terkena dampak banjir. Lebih dari tiga ribu jiwa mengungsi karena tinggi banjir mencapai 80-300 sentimeter.
Di daerah sekitar bantaran sungai Citarum dan cekungan tinggi bahkan banjir mencapai tiga meter. "Penghuni rumah berhasil menyelamatkan diri meskipun rumah tertimbun material longsor seluruhnya. Saat ini mereka mengungsi ke kerabat terdekat," kata Sutopo. (abm)