Selain itu, perwakilan Tergugat II, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan kembali tidak menghadiri persidangan.
"Surat kuasa tergugat I dan III legal standing-nya belum lengkap. Sementara tergugat II tidak hadir. Maka persidangan tidak dilanjutkan," ujar Ketua Majelis Hakim Baslin Sinaga di Ruang Sidang Kartika I, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Selasa (29/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baslin menuturkan, Yasonna bisa menunjuk langsung jajaran Kemenkumham apabila proses administrasi di Kejaksaan berlangsung lama. Hal itu dikarenakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya diberi waktu lima bulan menyelesaikan perkara perdata ini oleh Mahkamah Agung.
"Kami berikan satu minggu kepada tergugat I dan III melengkapi surat kuasa, dan memanggil Menkopolhukam," ujar Baslin.
Berdasarkan pantauan CNN Indonesia, persidangan tadi dimulai pukul 11.20 WIB. Puluhan kader PPP kubu Djan Faridz pun memenuhi ruang sidang. Belasan Brigade Ka'Bah berjaga di depan pintu dan dalam ruang sidang. Persidangan ditutup pukul 11.40 WIB. Rencananya, sidang kembali dilanjutkan pada Rabu (6/4).
Sebelumnya, sidang perdana gugatan Djan pada Selasa (15/3) juga ditunda. Hal itu dikarenakan tidak hadirnya kuasa hukum Luhut dan Yasonna. Gugatan dilayangkan karena Jokowi bersama Luhut dan Yasonna karena dianggap mengabaikan keputusan Mahkamah Agung.
MA memutuskan agar Yasonna mencabut SK pengesahan Pengurus PPP hasil Muktamar Surabaya pimpinan Romahurmuziy pada Januari silam. Yasonna pun mencabut SK pengesahan kubu Romi dan menghidupkan kembali pengurus PPP hasil Muktamar Bandung 2011.
Kepengurusan itu dipimpin Ketua Umum Suryadharma Ali dan Sekretaris Jenderal Romahurmuziy sebagai Sekretaris Jendral.
Upaya ini diharapkan menjadi jalan terbaik mengakhiri dualisme kepengurusan partai. Namun, kubu Djan Faridz menilai dihidupkannya lagi kepengurusan PPP hasil muktamar Bandung adalah perbuatan melawan hukum dan rawan gugatan.
Karenanya, Djan Faridz juga menuntut ganti rugi sebesar Rp1 triliun kepada pemerintah.
(obs)