Pembajak dan penyandera awak kapal berasal dari kelompok militan Abu Sayyaf yang kerap beroperasi di wilayah selatan Filipina.
Oleh karena penyanderaan terjadi di luar negeri, yaki Filipina, Ryamizard menyerahkan penanganan kasus ini kepada Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus kali ini, menurut Ryamizard, tak jauh berbeda dengan peristiwa penyanderaan awak kapal di Somalia beberapa tahun lalu. Motifnya pun sama, yakni soal ekonomi.
Kemhan terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait, termasuk dengan Kementerian Luar Negeri Filipina.
"Kami monitor. Kapal-kapal patroli juga sudah siap dekat Ambalat sana," kata Ryamizard.
Di perairan itu, lima kapal perang RI terus beroperasi, yakni KRI Surabaya, KRI Badau, KRI Ajak, KRI Mandau, KRI Ahmad Yani. Operasi dilengkapi patroli maritim oleh Pasukan Katak.
"Angkatan Laut sebenarnya memang sudah siaga di sana. Ada peristiwa ini atau tidak memang sudah digelar operasi di sekitar perairan laut Sulawesi," ujar Edi kepada CNNIndonesia.com.
TNI AL, ujar Edi, siap membantu kapan pun dibutuhkan terkait pembebasan sandera dari kelompok Abu Sayyaf. (agk)