"Kemampuan simpang susun tersebut mengurai kemacetan tidak lebih dari enam bulan sampai satu tahun saja. Selebihnya, simpang susun justru akan berfungsi sebaliknya, yaitu memicu dan melahirkan kemacetan baru," ujar Tulus melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Ahad (10/4).
Menurut Tulus, pembangunan simpang susun Semanggi merupakan hal yang kontra produktif bagi lalu lintas di Jakarta. Apalagi, tuturnya, dari segi tata ruang, simpang susun Semanggi akan memperburuk tata ruang di sekitar Semanggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang mendesak untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah memberikan disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi, misalnya mempercepat implementasi jalan berbayar elektronik. Sedangkan membangun simpang susun justru memberikan 'insentif' bagi pengguna kendaraan pribadi, agar semakin nyaman menggunakan kendaraannya," ujarnya.
Tulus menyebut bahwa pemberian disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi justru akan optimal dan adil jika dibarengi dengan pembenahan fasilitas transportasi umum yang manusiawi, terintegrasi, dan tarifnya terjangkau.
"Infrastruktur flyover, underpass, dan bahkan pembangunan jalan baru tidak lebih merupakan 'karpet merah' bagi warga Jakarta untuk memiliki dan menggunakan kendaraan bermotor pribadi untuk mobilitasnya. Warga Jakarta menjadi malas menggunakan angkutan umum. Apalagi angkutan umum di Jakarta sampai detik ini masih amburadul, sekalipun TransJakarta," kata Tulus.
Pembangunan jalan layang di kawasan Semanggi dimulai pada 8 April 2016. Ditargetkan Juli 2017 pembangunannya selesai sehingga bisa mengurangi kemacetan di kawasan tersebut.
Proyek pembangunan flyover Bundaran Semanggi ini memiliki panjang 796 meter di ramp 1 dan 826 meter untuk ramp 2 sementara lebar jalan 8 meter dengan 2 lajur. Jembatan ini akan menghubungkan kendaraan yang akan melaju dari Grogol ke Senayan dan dari arah Sudirman ke Cawang. Karena bukan jalan tol, jalan juga bisa dilintasi sepeda motor. Bentuk jembatan ini akan terlihat melingkar dari atas.
Proyek ini nilainya mencapai Rp345,067 miliar. Penggarap proyek jalan simpang ini adalah Badan Usaha Milik Negara PT Waskita Karya. Sementara anggaran didapat dari perusahan Jepang. (bag)