Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gun Retno menjelaskan perwakilan pemerintah yang akan menemui para petani asal Kendeng tersebut adalah Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
"Perjuangan para srikandi ini tak sia-sia karena perwakilan Pak Joko Widodo akan bertemu (dengan petani) sore ini," kata Gun saat ditemui di kawasan pintu masuk Monumen Nasional, Rabu (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat proses penghancuran semen itu dilakukan, para petani perempuan tak mampu menahan tangisnya. Tangisan tersebut muncul karena merasa perjuangan mereka selama dua hari ini tak sia-sia.
"Kita akan bertemu dua menteri, walaupun tidak bertemu Pak Jokowi kami percaya masalah ini akan selesai," ujarnya.
Sandra yang secara khusus hadir di lokasi unjuk rasa mengatakan dia bisa memahami perasaan para petani yang sudah frustasi dengan keberadaan pabrik semen di daerah mereka. Namun untuk pilihan pengecoran kaki, Sandra merasa itu bukan pilihan yang terbaik.
"Saya bisa memahami hal ini (unjuk rasa), tapi saya tak bisa menerima pilihan aksi ini," kata Sandra, Rabu (13/4).
"Saya sedih melihat mereka harus menyakiti badan sendiri alias self torture."
Sandra menjelaskan, Pemerintah Indonesia tidak boleh membiarkan aksi ini terus berjalan karena akan mempengaruhi kesehatan dari para petani tersebut. Menurutnya jika ini semua dibiarkan terus maka pemerintah bisa dianggap melakukan pembiaran terharap aksi penyiksaan.
"Walaupun ini menyiksa diri sendiri maka tapi Pemerintah Indonesia bisa dianggap membiarkan," katanya. (bag)