YPKP Beberkan Pemetaan Lokasi Kuburan Massal Korban 1965

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 26/04/2016 15:16 WIB
YPKP Beberkan Pemetaan Lokasi Kuburan Massal Korban 1965 Kuburan massal korban tragedi 1965 di hutan Plumbon, Kelurahan Wonosari, Mangkang, Semarang, Jawa Tengah. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965 Bejo Untung membeberkan beberapa daerah yang ditengarai menjadi lokasi kuburan massal korban tragedi 1965.

Penelitian YPKP menemukan setidaknya enam titik kuburan massal korban 1965, masing-masing di Pulau Sumatra dan Jawa.

“Satu titik di Sumatera Utara, dua titik di Sumtera Barat, satu titik di Kepulauan Riau, dua titik di Sumtera Selatan, satu titik di Jawa Barat, dan lima titik di Jawa Tengah,” kata Bejo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/4).


Di Sumatra, menurut Bejo, titik kuburan massal terletak di Sungai Ular, Sumatra Utara; Kabupaten Pesisir Selatan, Lubuk Pasung Bukittinggi Sumatra Barat; Kepulauan Riau; dan Pulau Kemaro Palembang, Lembah Delta Sungai Musi Sumtera Selatan.

Sementara di Jawa, satu titik ada di Hutan Karet Sukabumi, Jawa Barat; dan lima titik lainnya di Jawa Tengah. Provinsi tengah Jawa itu memang menjadi daerah dengan penemuan kuburan massal korban 1965 paling banyak.

Lima titik di Jawa Tengah itu berada di Boyolali, Banyudono, Sono Layu, Hutan Jati Jeglong Grogolan, dan Luweng Giritontro Wonogiri. Kelima titik kuburan massal itu, kata Bejo, diisi sekitar 20 hingga 200 korban.
Bejo menyatakan, para korban 1965 kebanyakan dieksekusi secara tragis layaknya binatang. Contohnya, kata dia, para tahanan politik korban 1965 di Kepulauan Riau ditempatkan di penampungan Pulau Kemaro untuk disiksa terus-menerus. Setelah meninggal, mayat mereka lalu ditenggelamkan ke laut atau sungai.

“Di Pesisir Selatan dan Padang Pariaman, seorang penduduk yang diduga PKI dibantai hidup-hidup dengan ditanam di bawah tanah dan dilempari batu. Di Lubuk Pasung Bukittinggi, kepala para korban ditanam dan dijadikan tumbal untuk membuat bendungan," kata Bejo.

YPKP hingga kini terus meneliti dan mendata lokasi yang dicurigai menjadi tempat pembantaian dan kuburan para korban tragedi 1965 di seluruh Indonesia.

“Sejauh ini yang baru kami jangkau beberapa daerah di pulau Sumatra dan Jawa,” kata Bejo.

YPKP berniat memperluas penelusuran mereka dengan bantuan anggotanya di daerah-daerah serta kelompok aktivis hak asasi manusia lain.

“Kami terus koordinasi untuk memperluas daerah temuan seperti Bali dan kawasan timur yang belum kami telusuri secara mendalam,” kata Bejo.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Kemanana Luhut Binsar Pandjaitan kemarin mengatakan meski selama ini banyak laporan yang menyebut ada ratusan ribu orang tewas akibat pelanggaran hak asasi manusia periode 1965, tak ada satu kuburan massal pun yang ditemukan pemerintah.

Jika kuburan massal itu ada, kata Luhut, ia akan langsung mendatanginya. “Silakan tunjukkan, Menkopolhukam akan pergi dengannya (orang yang bisa menunjukkan kuburan massal korban 1965),” kata Luhut.

Presiden Jokowi telah meminta Luhut untuk mencari bukti fisik terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia 1965.
(agk)