Nisan Korban Tragedi 1965 di Hutan Jati Plumbon

Suriyanto, CNN Indonesia | Rabu, 04/05/2016 12:48 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Batu nisan didirikan di Hutan Plumbon, Semarang, Jateng. Tempat itu diyakini jadi kuburan 24 orang korban tragedi 1965.

Sukar menunjukan daftar nama orang yang dikubur di Hutan Plumbon. Sukar mengaku disuruh menggali lubang untuk menguburkan orang-orang yang ditembak di tempat itu. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sukar saat ditemui dirumahnya di Plumbon. Rumah pria 83 tahun ini terletak tak jauh dari lokasi tempat ia dulu menguburkan sekitar 20 orang yang diyakini korban tragedi 1965. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sukar rutin membersihkan lokasi di sekitar batu nisan di Hutan Plumbon. Batu nisan dibangun oleh aktivis dan keluarga yang merasa kehilangan orang tercintanya saat tragedi 1965 pecah. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sukar tak mengenal siapa yang dikubur di tempat itu. Dulu ia hanya diminta untuk memakamkannya. Meski begitu, ia merasa perlu untuk merawatnya. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sesekali masih ada kerabat yang mengunjungi tempat tersebut. Mereka yakin keluarga mereka yang dimakamkan di tempat itu. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Agar makam tak hilang, bersama aktivis hak asasi manusia, keluarga membangun batu nisan sebagai penanda. Hanya delapan nama dituliskan meski diyakini ada 24 jenazah dimakamkan. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Batu nisan yang dibangun berada di bawah rimbun pohon jati di Hutan Plumbon. Daerah ini masuk kawasan kelurahan Wonosari, Kecamatan Mangkang, Semarang, Jawa Tengah. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sebelum dibangun batu nisan, oleh warga lokasi ini hanya diberi tumpukan batu melingkar dengan ditanami pohon jarak di tengahnya. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Keberadaan makam tersebut sempat ditutup-tutupi oleh warga sekitar karena takut pada rezim orde baru. (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Sukar bersama istrinya Ribut di rumah yang mereka tinggali tak jauh dari lokasi di mana diyakni dimakamkan korban tragedi 1965 di Hutan Plumbon, Wonosari, Semarang, Jateng.  (Getty Images/Ulet Ifansasti)