Hikayat Kretek dari Roro Mendut hingga Djamhari

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Selasa, 31/05/2016 11:57 WIB
Hikayat Kretek dari Roro Mendut hingga Djamhari Buku Raja Kretek. (Dok. Batara Media)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Indonesia telah mengenal kretek sejak Kerajaan Jawa pada abad ke-17. Catatan soal rokok racikan tembakau dan cengkih itu termuat dalam cerita rakyat Roro Mendut yang termaktub pada Babad Tanah Jawi.

Alkisah kecantikan Roro Mendut memukau semua pria, termasuk Tumenggung Wiraguna, panglima perang Sultan Agung dari Kerajaan Mataram yang kala itu berkuasa. Alih-alih tunduk pada pinangan, Roro Mendut secara terang-terangan menolak dan menjatuhkan pilihan pada pemuda lain yang sudah lama dia dambakan.

Tumenggung Wiraguna murka. Dia lantas mewajibkan Roro Mendut membayar pajak kepada Kerajaan Mataram. Untuk mendapatkan uang, Roro Mendut pun mengumpulkan uang dengan berjualan rokok lintingan yang direkatkan dengan jilatan air ludahnya sendiri.

Kisah lainnya, meski asal-usulnya belum jelas, riwayat kretek diyakini bermula dari penemuan Haji Djamhari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Kisah Haji Djamhari yang hidup di kalangan para pekerja pabrik rokok ini masuk dalam buku ringkasan sejarah Hikayat Kretek karya sejarawan Amen Budiman dan Onghokham.

Djamhari dan Obat Sakit Dada

Djamhari suatu ketika menderita sakit dada yang membuatnya kesulitan bernapas. Untuk mengobati penyakitnya, penduduk Kudus itu bereksperimen mengoleskan minyak cengkih di bagian dada dan punggungnya.

Ajaib, sekalipun tidak sembuh sama sekali, usahanya itu membuat dia merasa lebih ringan. Djamhari lantas mencoba mengunyah langsung bunga cengkih dan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik.

Penyakitnya yang berangsur semakin baik membuat Djamhari kembali bereksperimen merajang cengkih halus-halus dan mencampurnya dengan tembakau untuk kemudian dilinting menjadi rokok. Setelah rutin mengisap rokok buatan sendiri, penyakit sesak di dada Djamhari pun sembuh.

Cerita tentang temuan obat isap itu dengan cepat menyebar di sekitar daerah tempat tinggalnya. Teman dan kerabat beramai-ramai meminta rokok mujarab bikinan Djamhari.

Ketika mengisap rokok buatan Djamhari, penduduk ternyata merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Djamhari pun cukup dibuat kewalahan melayani permintaan 'rokok obat' temuannya.
Mulanya rokok lintingan Djamhari disebut rokok cengkih. Lantaran ketika diisap cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi 'kretek-kretek', maka rokok temuan Djamhari pun kemudian lebih gandrung dikenal sebagai rokok kretek. Secara harfiah, rokok kretek ialah rokok yang tembakaunya dibubuhi cengkih.

Demikianlah, suatu barang yang semula hanya dimaksudkan sebagai obat, dalam waktu singkat menjadi sumber kenikmatan sehingga memaksa Djamhari membuat produksi kretek rumahan yang kemudian diikuti jejaknya oleh penduduk sekitar.

Kretek kala itu dibungkus klobot atau daun jagung kering, dan dijajakan per ikat berisikan 10 linting tanpa selubung kemasan sama sekali.

Identitas pasti Djamhari hingga kini masih samar, namun dia diyakini meninggal pada 1890. Mengacu pada tahun tutup usia Djamhari, sejarawan memperkirakan industri kretek di Kudus terjadi pada kurun tahun 1870-1880.

Industri kretek rumahan. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Nasilah dan Nitisemito

Adalah Nitisemito, pedagang asal Kudus yang menjadikan temuan Djamhari itu semakin memikat di pasaran 10 tahun kemudian. Dalam buku Raja Kretek karya penulis Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto, Nitisemito diberikan status "Pengusaha pribumi terkaya sebelum kemerdekaan".

Nitisemito mendapat pengakuan sebagai perintis industri rokok di Kudus. Bisnis yang dimulainya pada 1906 itu dapat dikatakan telah menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.

Usaha yang dirintis Nitisemito bermula dari pertemuannya dengan Nasilah, pemilik warung yang biasa menjadi tempat tongkrongan para kusir dokar. Nitisemito kala itu menjadi kusir dokar setelah jatuh-bangun dalam usaha dan pekerjaan yang dia lakoni sebelumnya.

Nasilah kala itu menyediakan rokok kelobot untuk menggantikan kebiasaan nginang para kusir dokar yang biasa mangkal di warungnya. Nginang adalah sebutan dari tradisi makan sirih yang diramu dengan kapur, gambir, dan buah pinang.

Nasilah tidak terlalu suka warungnya dibuat kotor oleh sampah sepahan rempah nginang para kusir dokar. Dia menyuguhkan rokok kretek yang dibungkus kelobot untuk pengganti nginang para kusir.

Kretek buatan Nasilah banyak disukai oleh para kusir dan pedagang keliling, termasuk salah satu penggemarnya adalah Nitisemito.

Singkat cerita, Nitisemito menikahi Nasilah dan mengembangkan usaha rokok kretek sebagai komoditas dagangan utamanya. Karena usahanya terbilang maju pesat, Nitisemito lantas berusaha melabeli rokoknya dengan merek Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo (Rokok Cap Kodok Makan Ular).

Namun merek itu rupanya menjadi bahan tertawaan, Nitisemito pun kemudian mengganti merek rokoknya menjadi Tjap Bulatan Tiga, atau lebih dikenal dengan sebutan Bal Tiga, dan resmi terdaftar pada tahun 1908.

Seiring perkembangan, industri-industri kretek pesaing bermunculan. Setiap pabrik memproduksi kretek dengan dengan racikan resep tandingan untuk menghasilkan rasa yang tak kalah nikmat saat diisap.

Sepuluh tahun setelah pabrik Bal Tiga resmi berdiri pada 1914, sedikitnya ada 25 perusahaan rokok berskala kecil hingga besar di daerah Kudus.
Pada mulanya seluruh perusahaan kretek di Kudus berada di tangan penduduk lokal. Namun setelah usaha kretek mencapai banyak kemajuan dalam waktu relatif singkat, para pengusaha Tionghoa beramai-ramai mengikuti jejak mereka.

Hampir semua pabrik yang pernah berdiri di era Bal Tiga kini sudah gulung tikar dan hanya meninggalkan nama. Selain persaingan bisnis dan lilitan utang, tak sedikit keberlangsungan industri kretek berakhir akibat persengketaan di tangan para ahli waris.

Meski demikian, industri kretek gurem dan skala menengah hingga kini masih tetap bermunculan laiknya jamur yang tumbuh musiman, namun terkadang secepat itu pula pabrik-pabrik itu menutup usahanya.

Pabrik-pabrik kretek besar yang bertahan hingga kini bisa dicatat dalam hitungan jari. Di tengah persaingan industri rokok tembakau asing yang menginvasi bisnis dalam negeri, industri kretek kecil hanya bisa bergeliat dalam usaha sembunyi-sembunyi dengan sasaran kalangan penikmatnya yang terbatas.

Pada akhirnya, melalui rentang sejarah yang cukup panjang, kretek di Indonesia bisa dikatakan telah mengakar dengan kehidupaan masyarakat, terutama mereka yang mengerti dengan kenikmatan cita rasanya.

Bagaimanapun, upaya menjadikan kretek sebagai warisan budaya Indonesia hingga kini selalu berakhir menjadi perdebatan. Kretek kini telah menjadi komoditas persaingan dagang yang diselubungi kepentingan bisnis, bahkan politik.



(gil/yul)