Cengkeram Bayang PKI di Balai Kartini

Andry Novelino, CNN Indonesia | Kamis, 02/06/2016 17:29 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Balai Kartini menjadi lokasi perhelatan Simposium Nasional Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI. Aura ketakutan akan PKI kental terasa di sana.

Seorang anggota ormas melihat-lihat foto di stan pameran pada acara Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain' yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pada keluarga korban PKI memberikan kesaksian pada Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Sejumlah purnawirawan TNI hadir pada Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Simposium 'Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI' digelar sebagai
Pameran foto korban PKI pada Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain' digagas Gerakan Bela Negara, sejumlah ormas Islam, berbagai organisasi purnawirawan TNI-Polri, dan beberapa unsur kepemudaan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Purnawirawan TNI menghadiri Simposium 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI' yang digelar untuk mengoreksi Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Kesejarahan. Sejarah yang banyak versi diyakini panitia Simposium 'Anti-PKI' itu tak bakal berujung ke satu titik temu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra, Fadli Zon, hadir dalam Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain'. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain' disebut digelar dengan pendekatan ideologi, yakni Pancasila. Simposium ini akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah, seperti yang dilakukan Panitia Simposium Membedah Tragedi 1965. (CNN Indonesia/Andry Novelino)