Try berkata, simposium ini bertujuan untuk mengukuhkan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia. Dia menegaskan penolakannya terhadap kebangkitan PKI dan semua ideologi yang kandungan isi serta tindak-tanduk pendukungnya bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila.
"Kita harus mengukuhkan kembali dukungan kita kepada Pancasila dan menegaskan kembali penolakan kita terhadap komunisme dan PKI," kata Try di hadapan ratusan orang peserta, Rabu (1/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu maraknya penggunaan atribut berlambang palu-arit dan aksi-aksi yang diduga mendukung penyebaran komunisme belakangan ini dianggap Try berlebihan.
Dia menyebut ada lima tujuan utama penyelenggaraan simposium. Pertama, mempersatukan seluruh komponen bangsa guna menghadapi ancaman hegemoni global yang anti-Pancasila. Kedua, mencegah berbagai upaya untuk membangkitkan kembali PKI.
Ketiga, membangun kesadaran bangsa bahwa PKI telah melakukan pemberontakan berkali-kali terhadap NKRI. Keempat, menegaskan bahwa ideologi yang bertentangan dengan Pancasila tidak dapat hidup di NKRI dalam bentuk apapun.
Terakhir, untuk menghasilkan rekomendasi menyeluruh dan adil bagi pemerintah untuk menghadapi musuh Pancasila, khususnya bahaya laten komunis.
Di sela acara, pembawa acara mengajak peserta meneriakkan seruan, "Pancasila, Abadi!"
Sementara Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang dijadwalkan mengisi sambutan ternyata tidak hadir.
Hadir pula pemimpin Front Pembela Islam Habib Rizieq, Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Soerjadi, Ketua Gerakan Bela Negara Budi Sudjana, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen, dan sejumlah purnawirawan dan perwakilan ormas kepemudaan serta keagamaan.