Menteri Yasonna: Mana Ada Lagi PKI Sekarang?

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Kamis, 02/06/2016 19:39 WIB
Menteri Yasonna: Mana Ada Lagi PKI Sekarang? Jika PKI akan bangkit, kata Menteri Yasonna, BIN pasti sudah tahu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly menyatakan ucapan Mayor Jenderal Purnawirawan Kivlan Zen tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia tak perlu diributkan.

“Mana ada lagi PKI sekarang? Intelijen bilang tidak ada apa-apa kok. Kalau ada yang begitu (kebangkitan PKI), BIN sudah lebih tahulah,” kata Yasonna usai mengikuti rapat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (2/6).

Jika pun ada informasi soal PKI, Yasonna meminta hal itu disampaikan kepada pemerintah. “Masak (PKI) disebut udah mau bergerak begitu BIN enggak tahu. Kalau memang ada dan beliau (Kivlan) lebih tahu, ya serahkan info ke pemerintah.”


Yasonna meminta semua pihak untuk menyampaikan informasi yang benar, tak sekadar melempar isu.

“Jadi jangan seperti menebarkan ketakutan kepada masyarakat. Ini kan seperti mau ada bahaya,” kata dia.

Menteri asal PDIP itu yakin PKI bukan lagi ancaman bagi Indonesia. “PKI itu historisnya, di negara manapun sudah tidak laku lagi. Kuba saja sudah didatangi Amerika kok. Tinggal Korea Utara, itu pun sudah megap-megap. Siapa yang mau (komunisme)?”
Mayjen Purn Kivlan Zen berpidato dalam Simposium 'Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain' di Balai Kartini, Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Secara terpisah, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan pun meragukan ucapan Kivlan.

“Tanya saja sama Kivlan Zen (soal PKI). (PKI itu) enggak ada. Kami (pemerintah) kan punya mata dan kuping di mana-mana,” kata Luhut.

Luhut balik menantang Kivlan membuktikan omongannya yang menyebut PKI telah bangkit lagi saat ini.  Dia meminta Kivlan menunjukkan lokasi keberadaan PKI.

"Saya tanya intelijen, mereka belum temukan itu (PKI). Kalau beliau (Kivlan) tahu, tolong laporkan sih mana tempatnya, nanti kami lihat," ujar Luhut.

Kivlan melontarkan isu kebangkitan PKI dalam Simposium Nasional ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain’ yang digelar di Balai Kartini, Jakarta.
Simposium itu digelar sebagai “tandingan” atas Simposium Nasional ‘Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Kesejarahan’ yang telah lebih dulu digelar April lalu atas inisiasi Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang beranggotakan sejumlah keluarga tokoh nasional, baik sipil dan militer, yang menjadi korban Tragedi 1965.

Berbeda dengan Simposium Membedah Tragedi 1965, Simposium Mengamankan Pancasila dari PKI menggunakan pendekatan ideologi, bukan kesejarahan. Simposium yang berakhir malam ini itu digagas oleh Gerakan Bela Negara, sejumlah ormas Islam, berbagai organisasi purnawirawan TNI-Polri, dan beberapa unsur kepemudaan.

“Kami mengoreksi pendekatan kesejarahan karena pendekatan kesejarahan terlalu banyak versi sehingga tidak akan ketemu. Yang kami lakukan adalah pendekatan ideologi. Kalau sama-sama mengakui Pancasila, mestinya ketemu,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Simposium, Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri.

Simposium itu telah menghasilkan sembilan rekomendasi, yang salah satu di antaranya meminta kepada seluruh pihak untuk melupakan masa lalu dan melihat ke depan, karena rekonsiliasi di antara anak-cucu dari mereka yang terlibat konflik masa lalu diklaim telah terjadi secara alamiah.

Oleh sebab itu pula simposium menyimpulkan rekonsiliasi tak perlu lagi dilakukan.
(agk)