Pemberontakan yang muncul paling awal tercatat pada 3 April 1869 di Tambun, Bekasi. Ketika itu, Bekasi merupakan bagian dari residen Batavia.
Sistem partikelir membuat masyarakat Bekasi sengsara karena sebagian tanah Bekasi dikuasai para tuan tanah Cina dan Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemberontakan yang terjadi di Tambun dipimpin oleh jawara bernama Bapak Rama. Aksi yang melibatkan ratusan orang ini menewaskan seorang Asisten Residen Meester Cornelis C.E Kuijper, beberapa aparat pemerintah dan tuan tanah. Para pemberontak kemudian dijatuhi hukuman mati dengan eksekusi dilangsungkan di alun-alun Bekasi.
Lihat juga:Imam Syafei, Tentara Jawara Pendiri Cobra |
“Hidup masyarakat kian terbebani oleh kenaikan harga yang tinggi, upah buruh yang rendah, serta penarikan berbagai jenis pajak dan pungutan liar,” kata Ali Anwar, penulis buku KH Noer Ali Kemandirian Ulama Pejuang, kepada CNNIndonesia.com, pekan lalu.
Rumah tuan tanah Bekasi. (Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via Wikimedia CC-BY-SA-3.0) |
Beberapa tahun kemudian, pada 1913 muncul demonstrasi dari kaum buruh petani yang memprotes upah yang terlalu rendah. Aksi ini dimobilisir oleh Djoemiat Islamijah, perpanjangan tangan Sarekat Islam.
Setelah masa kemerdekaan, para pejuang mempertahankan kemerdekaan dan tak mau dijajah lagi oleh bangsa asing. Beberapa ulama dan para jago yang memimpin perjuangan di antaranya Marzuki Urmaini (dari Gerakan Pemuda Islam Bekasi-GPIB), Kyai Haji Noer Alie, Angkut Abu Gozali, Rijan bersama anaknya, M.Husein Kamaly, dan Gusir.
Berkat perjuangannya Kyai Haji Noer Ali mendapat gelar pahlawan pada 2006.
Haji Darip dan Jaringan Antar Jawara
Tak jauh dari Bekasi, muncul tokoh jawara Betawi asal Klender, Muhammad Arif alias Darip yang dilahirkan pada 1886. Darip yang pernah belajar ke Mekah selama tiga tahun ini dikenal dengan sebutan Haji Darip.
Haji Darip. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
Masyarakat Betawi mengenangnya sebagai pahlawan dan namanya diabadikan menjadi sebuah jalan di daerah Klender menuju Bekasi. Kisah perjuangan Darip dikenang lewat cerita lisan antar penduduk pribumi.
“Babeh tak menyimpan catatan sejarah mengenai masa perjuangannya,” kata Ahmad Huryani alias Haji Uung, 69 tahun, anak dari Haji Darip, kepada CNNINdonesia.com.
Berkat kepiawaiannya, Haji Darip memiliki wilayah kekuasaan yang luas, membentang dari markasnya di Klender, Pulogadung hingga Jatinegara.
Selama masa revolusi kemerdekaan, Haji Darip membangun jaringan dengan jawara lain seperti Camat Nata (gerombolan di Tambun), Haji Eman, Haji Masum Teluk Pucung, dan Pa’ Macen.
Selain itu, Haji Darip berhubungan dekat dengan Kyai Haji Noer Ali, jago dan ulama asal Bekasi dan Imam Syafi’i seorang tokoh jagoan yang menguasai dunia kriminialitas di daerah Senen.
Kerjasama antar para tokoh jawara berupa pembagian senjata dan kendaraan dari markas tentara Sekutu. Menurut Cribb, Haji Darip pernah mendapat suplai senjata dari pemimpin revolusi di Jawa Timur, Dr Mustopo.
Lihat juga:Cerita Haji Black, Jawara Betawi Kini |
“Babeh mencuri senjata dari gudang penyimpanan di Sunda Kelapa dan membawanya ke Pulogadung dengan menyusupinya ke dalam beras,” kata Iwan Cepi Murthado, anak dari Murthado kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/6).
Selain membangun jaringan dengan para jawara lain, Haji Darip bekerjasama dengan kelompok Menteng 31, yaitu kelompak kaum muda terpelajar Indonesia yang terdiri dari para mahasiswa kedokteran. Pada saat berlangsung pertemuan di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, Haji Darip mengutus anak buahnya menghadiri pertemuan.
Laskar Rakyat
Pada masa masa revolusi kemerdekaan, muncul perlawanan rakyat dalam bentuk laskar-laskar sipil bersenjata. Haji Darip memimpin Barisan Rakyat (BARA).
BARA membentuk pasukan berani mati yang anggotanya terdiri dari narapidana kasus pembunuhan. |
BARA membentuk pasukan berani mati yang anggotanya terdiri dari narapidana kasus pembunuhan. "Para penghuni tahanan segan dan menaruh hormat terhadap Haji Darip karena ilmu silat dan ilmu kebal yang dimilikinya," tulis Amurwani.
Beberapa pertempuran yang dihadapi BARA di antaranya serangan pada 20 November 1945, di daerah Jati Petamburan, Karet dan Jati Baru. Pada awal Januari 1946, serdadu-serdadu NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie) membakar rumah-rumah di Jatinegara, Kemuning, dan Gang Ambon.
Kelompok Darip tak kuasa menghadapi perlawanan NICA karena kurangnya persenjataan. Serangan-serangan ini memaksa kelompok Darip bergeser ke luar Jakarta.
Awalnya mereka mundur ke Pulogadung berlanjut ke Cakung, Cikarang, Tambun, Bekasi, Kerawang, Cikampek dan akhirnya mendirikan markas di Purwakarta.
Haji Darip meninggal tahun 1981 dalam usia 84 tahun. “Bapak sakit-sakitan, dia dirawat di Cempaka Putih dan dimakamkan di Tanah Koja,” kata Haji Uung.
Lihat juga:Gaya Jago Betawi |
Rumah tuan tanah Bekasi. (Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via Wikimedia CC-BY-SA-3.0)
Haji Darip. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)