LIPUTAN KHUSUS

Imam Syafei, Tentara Jawara Pendiri Cobra

Yuliawati, Gilang Fauzi | CNN Indonesia
Rabu, 22 Jun 2016 09:10 WIB
Imam Syafei, mantan penguasa kawasan Senen yang mendapat julukan Raja Copet, pernah menjabat sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Pasar Senen tempo dulu. (Dok. wikimedia commons/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tubagus Hadrand, 92, masih berumur 14 tahun ketika meninggalkan tempat tinggalnya di Serang. Hadrand yang belakangan dipanggil dengan sebutan Jeran, ketika itu bermodal nekad mencoba peruntungannya datang ke kota besar.

“Saat itu saya menumpang truk yang membawa saya ke Pasar Senen,” kata Jeran yang ditemui di rumahnya di Galur, Jakarta Pusat kepada CNNIndonesia.com, Minggu (19/6).

Jeran yang datang ke Jakarta pada 1938, tidak memiliki kenalan atau keluarga sama sekali, kemudian menggelandang dan ditampung di Pasar Senen.

“Di situ saya mengenal dan mengikuti Imam Syafei,” kata Jeran.

Imam Syafei, ketika itu adalah penguasa kawasan Pasar Senen dan mendapat julukan Raja Copet. Imam Sjafei yang lahir Agustus 1923 di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, terkenal karena memobilisasi para pedagang kecil, buruh, preman, gelandangan dan pencopet di Senen. Dia mendirikan organisasi yang dinamakan OPI (Oesaha Pemoeda Indonesia).
Belakangan, Imam Syafei menjadi satu-satunya jawara yang berhasil masuk ke elit pemerintahan dan menduduki jabatan sebagai Menteri Kemanan Rakyat yang dipilih oleh Presiden Soekarno.

Ketika masa perjuangan memperebutkan kemerdekaan, Imam Syafei bergabung dengan API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin Daan Anwar. Almarhum Rosihan Anwar pernah menulis artikel obituari berjudul Daan Anwar Pejuang daerah Senen, di harian Kompas, 5 Februari 1997, di antaranya menyebutkan mengenai Sjafei.

Berkat bantuan Syafei, Daan Anwar yang diserang tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) Belanda di daerah Kramat pada Desember 1945, lolos dari maut.

Imam Syafei atau sering juga disebut dengan Sape’i atau Bang Pi’i, memiliki anak buah yang berasal dari Banten. Kelompok mereka disegani karena memiliki senjata api dari tangsi-tangsi Belanda yang berada di sekitar wilayah Senen dan Salemba.

“Kelompok Imam Syafei juga berhasil mencuri jip,” kata Jeran.
Suasana Pasar Senen tempo Dulu (wikimedia commons/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)
Bentuk Cobra

Setelah kemerdekaan, beberapa laskar menjadi embrio tentara Indonesia. Imam Syafei salah satu jagoan yang sukses masuk ke Divisi Siliwangi dengan pangkat Mayor. Begitu juga dengan anak buah yang paling dekat dengannya yang bernama Achmad Bunyamin yang dipanggil Mat Bendot.

Nasib para laskar berubah ketika pemerintah pada 1947 menerapkan program Reorganisasi dan Rasionalisasi (ReRa). ReRa menciutkan 350 ribu tentara plus 400 ribu anggota laskar menjadi 160 ribu hingga 57 ribu prajurit reguler.

Akibat kebijakan ini, pangkat Bang Pi'i turun menjadi Kapten. Begitu juga Mat Bendot yang awalnya berpangkat Mayor turun menjadi Asisten Pembantu Letnan Dua.
“Latar belakang pendidikan Mat Bendot membuat pangkatnya jadi rendah,” kata Achmad Yaya, putra Mat Bendot, kepada CNNIndonesia.com, pertengahan Juni lalu.

Menurut Amurwani Dwi Lestariningsih dalam Para Penuntut Balas: Jago dan Jagoan Studi Kriminalitas di Jakarta 1945-1950, beberapa anggota eks laskar yang tersingkirkan dari tentara memilih ke dunia hitam membentuk gerombolan yang membuat onar ibu kota. Tingkat kejahatan dan perampokan di Jakarta saat itu pun menjadi sangat tinggi.

Dalam situasi seperti itu, Imam Syafei mengorganisir para eks laskar membentuk Corps Bambu Runcing yang disingkat Cobra. Cobra didirikan sekitar 1949 dan menjadi organisasi masyarakat semi militer yang pertama pasca kemerdekaan.

“Cobra kala itu direstui Komando Militer untuk membantu pengamanan di Jakarta,” kata Achmad Yaya.

Seiring perjalanan, nama Cobra semakin melambung dan disegani banyak kalangan. Hampir di setiap kecamatan – saat itu hanya ada tiga yakni Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan - terdapat anggota Cobra. Selain merekrut mantan pejuang, Cobra menghimpun jagoan-jagoan asal Tanah Abang, Pasar Rebo, Jembatan Lima sampai Kebayoran Lama.

Ketenaran Cobra diiringi tudingan miring yang menganggap kelompok ini sebagai kumpulan para bandit. Kepada Amurwani, mantan anggota Cobra, Irwan Sjafii, mengisahkan soal sepak terjang kelompoknya yang kerap menggunakan aksi kekerasan. Ketika itu Cobra juga bekerjasama dengan orang Cina membuka perjudian atau kasino di Glodok, Tanah Tinggi dan Jatinegara.

Menurut Jeran, Cobra ditakuti karena memberikan perlindungan. Dia menggambarkan saat itu hampir setiap toko dan warung memakai stiker Cobra yang berlogo ular.
Para pedagang dan pengusaha pun secara rutin memberikan iuran setiap bulan. “Kami tidak pernah memaksa pembayaran retribusi, mereka memberinya sukarela,” kata Jeran yang juga mantan anggota Cobra.

Mat Bendot

Mat Bendot adalah anggota Cobra yang paling tersohor karena kedekatannya dengan Imam Syafei. Dia kerap menunggang kuda dan memegang cemeti ekor ikan pari.

“Setiap melakukan inspeksi di wilayah kekuasaannya, Mat Bendot menunggang kuda hitam yang bernama Samson,” kata Jeran yang belakangan kemudian menjadi pengawal Mat Bendot.

Mat Bendot pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air. Dia juga memiliki keahlian bela diri. Dia sempat mendapat julukan Si Banteng Lilin karena kemampuannya yang tak terkalahkan dalam setiap ajang gulat di Pasar Gambir.

Dia dianggap mirip aktor tampan pujaan Hollywood, Rock Hudson. Yaya, anak Mat Bendot
Mat Bendot kerap menghadapi duel dari para jawara yang menantang bosnya, Imam Syafei. Dia pernah menghadapi jagoan yang paling ditakuti kala itu yang punya julukan Si Kebon dalam duel adu pistol di sebuah bar di Jakarta.

"Setelah kejadian itu Jakarta geger. Kebon kosong! Kebon kosong!" ujar Achmad Yaya.

Yaya adalah anak pertama dari istri ke-17 Mat Bendot. Pria itu dikabarkan menikahi 44 perempuan dan dikaruniai 18 anak dari delapan istrinya. Kebiasaan yang kerap berganti istri ini membuat dia dijuluki Bendot, plesetan dari kambing bandot yang gemar kawin.

Pada masa kejayaannya, Mat Bendot dikenal kharismatik dan memiliki paras yang rupawan.

“Dia dianggap mirip aktor tampan pujaan Hollywood, Rock Hudson,” kata Yaya.
Foto Achmad Bunyamin alias Mat Bendot saat berusia 40 tahun. (Repro CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Syafei Menjadi Menteri

Pada 1959, atas permintaan komando militer Jakarta, Cobra dibubarkan. Syafei tetap dianggap sebagai menjadi tokoh penting karena mampu menggerakkan massa untuk berdemonstrasi. Salah satunya demonstrasi pembubaran parlemen pada 1952.

Syafei berkawan dengan politisi dan tokoh militer, di antaranya Kemal Idris. Pada masa menjelang kejatuhan Orde Lama, Syafei diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora II yang dikenal dengan kabinet 100 menteri. Namun, jabatan itu dipangkunya hanya sebentar, mulai 24 Februari 1966 dan berakhir 27 Maret 1966.
Lihat juga:
Gaya Jago Betawi
Banyak kalangan yang mencibir pengangkatan Bang Pi'I sebagai menteri. Mahasiswa bahkan berdemonstrasi meneriakinya sebagai 'menteri copet'.

“Padahal dia itu bukan copet, tapi mengkooordinir para jagoan agar tidak membuat keresahan. Bang Pii bersama Mat Bendot membuat Jakarta aman,” kata Jeran.

Setelah kejatuhan Soekarno, popularitas Imam Syafei dan Mat Bendot memudar. Syafei sempat dituding sebagai antek Partai Komunis Indonesia. Dia sempat mendekam di Rumah Tahanan Militer Pondok Gede selama 5 tahun. Setelah keluar penjara, Bang Pi'i jatuh sakit dan meninggal pada 1982.

“Tudingan sebagai antek PKI membuat takut para anggota Cobra. Mereka pun membakar berbakai dokumentasi terkait kegiatan mereka, “ kata Iwan Mahmoed, yang mendapat keterangan dari Husin yang pernah menjadi anggota Cobra.

Menurut Amuwarni, Mat Bendot pun mendapat tudingan terlibat pergerakan kaum kiri. Bahkan kematiannya disebut karena ulah penembak misterius (petrus).

Yaya membantah keterlibatan bapaknya dengan PKI dan dia pun mengklaim Mat Bendot meninggal karena jatuh sakit pada 1984.
Menurut Yaya, sejak rezim berganti, ada cap bandit yang terkesan sengaja dilekatkan kepada Imam Syafei dan Mat Bendot.

“Tapi tidak dengan penilaian orang-orang dekat yang pernah intim mengenal sosok Mat Bendot dan Imam Syafei,” kata Yaya.

Sejak berakhirnya peredaran Cobra, bermunculan organisasi masyarakat semi militer lain di masa Orde Baru. Beberapa ormas ini menjadi alat politik dari pemerintah yang berkuasa.
(yul/yul)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER