Si Pitung merupakan ikon paling populer dari ketokohan jawara di masyarakat Betawi. Dia diperkirakan hidup di abad 19 pada masa era kolonial Belanda.
“Banyak kisah yang beredar mengenai ketokohan Si Pitung, sehingga beberapa fakta di sekitarnya menjadi kabur,” kata Yahya Andi Saputra, sejarawan asal Universitas Indonesia kepada CNNIndonesia.com, awal Juni lalu.
Lihat juga:Imam Syafei, Tentara Jawara Pendiri Cobra |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Nama Solihun itu hanya salah satu saja, nama aslinya belum ada yang bisa memastikan,” kata Yahya.
Banyak kisah yang beredar mengenai ketokohan Si Pitung, sehingga beberapa fakta di sekitarnya menjadi kabur. Yahya Andi Saputra |
Lewat penelusuran berbagai media kolonial, kisah Si Pitung dikaitkan dengan berbagai aksi perampokan. Salah satunya, aksi Si Pitung terekam dalam media Hindia Olanda, koran terbitan Malaysia, pada edisi 22 November 1892.
Sebuah rumah di Marunda, Jakarta Utara dipercaya sebagai milik Si Pitung. Ada pihak lain yang mengatakan, rumah itu milik pedagang kaya bernama H. Syafiuddin yang dirampok Si Pitung.
“Masa Si Pitung lahir, kondisi sosial di Batavia banyak tuan tanah,” kata Isa.
Para tuan tanah itu mendapat sertifikat dari pemerintah Hindia Belanda. Mereka berhak mengelola tanah yang diberikan sertifikatnya itu dengan kewajiban membayar pajak setiap tahun.
Di atas tanah itu ditanami berbagai macam tanaman produktif. Karena itu di Jakarta dan sekitarnya banyak wilayah dinamai naman kebun tanaman seperti Kebon Kelapa, Kebon Jeruk, Kebon Nanas, Kebon Kacang, Kebon Sirih dan beberapa nama tempat lain.
Lihat juga:Maen Pukulan ala Betawi |
“Penduduk yang tidak sanggup membayar pajak, tuan tanah melalui centeng dan mandor merampas hartanya,” kata Isa.
Berawal dari sinilah, penduduk kerap meminta bantuan Si Pitung untuk mengambil kembali harta yang dirampas centeng dan mandor. Pitung saat itu dikenal sebagai pemuda yang penuh semangat dan mahir silat.
Pelabuhan Kalapa, Batavia. (Andries Beeckman via Wikimedia (CC-PD-Mark) |
Kala itu, wilayah Jakarta di bawah Kepatihan Kertajaya dengan nama patihnya Mundari. Dulu bangunan kepatihan berada di Jalan Kerta Jaya, Bandengan. Kepatihan ini berafiliasi Kerajaan Sunda Padjajaran.
Lihat juga:Gaya Jago Betawi |
“Wa Item ini jago, kalau enggak jago enggak bisa diangkat jadi syahbandar,” kata Ridwan kepada CNNIndonesia.com, awal Juni lalu.
Jurus silat yang dikuasai Wa Item menurut Ridwan disebut dengan aliran Syahbandar.
Tugas utama Wa Item sebagai syahbandar adalah mengurusi pabayaan atau kepabeanan. Sehari-hari, Wa Item dibantu oleh 20 orang pegawai.
Pada suatu malam, yang diperkirakan tanggal 22 Juni 1527, tentara Fatahillah menyerbu markas Wa Item. Wa Item dibantu para pegawainya menghadapi tentara. Penyerbuan ini membuat Wa Item dan Patih Mundari tewas dan mayatnya dibuang ke laut.
Lihat juga:Para Jawara di Masyarakat Betawi |
Dari kisah Wa Item ini, kata Ridwan, tidak seharusnya hari ulang tahun Jakarta dirayakan setiap tanggal 22 Juni.
Menurut Yahya, ada jejak sejarah yang ditinggalkan mengenai keberadaan syahbandar yang diserang Fatahillah. “Nama syahbandar itu yang masih perlu ditelusuri lebih lanjut,” kata Yahya.
Syahbandar yang diserang Fatahillah itu, kata Yahya, bagian dari Kerajaan Sunda Padjajaran yang membuat perjanjian dengan Portugis.
“Naskah perjanjiannya yakni Prasasti Padrao ada di Museum Sejarah Jakarta,” kata Yahya.
Lihat juga:Silat dan Pemberontakan Betawi Masa Kolonial |
Sejak lima tahun terakhir, kata Yahya, cerita mengenai syahbandar ini menjadi topik perdebatan yang hangat di kalangan sejarawan ibu kota.
“Beberapa kali ada diskusi dengan pemerintah DKI Jakarta dan pembahasannya hingga kini belum tuntas,” kata dia. (sur/yul)
Pelabuhan Kalapa, Batavia. (Andries Beeckman via Wikimedia (CC-PD-Mark)