Yenny Wahid: Pengawasan Pemerintah Soal Vaksin, Lemah

Deddy S, CNN Indonesia | Senin, 27/06/2016 06:20 WIB
Yenny Wahid: Pengawasan Pemerintah Soal Vaksin, Lemah Yenny Wahid dan Kepala Perwakilan Unicef Indonesia Gunilla Olsson, saat menerima gelar Champion of Children dari Unicef pada Mei lalu. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah diminta tak sekadar menangkap pelaku pemalsuan vaksin tapi juga memecahkan masalah stok dan harga vaksin di pasaran. Yenny Wahid, tokoh yang baru meraih gelar Champion of Children dari Unicef ini, mengatakan pengawasan pemerintah sangat lemah terkait masalah vaksin ini.

Direktur The Wahid Institute ini mengatakan, pada tahun lalu pernah terjadi stok vaksin cacar kosong dan ternyata itu sudah terjadi selama dua tahun. Dia mengalami sendiri masalah itu saat hendak memberikan vaksin pada putri bungsunya.

“Semua rumah sakit besar di Jakarta tak punya stok, dokter anak saya sampai menyarankan saya membeli ke Singapura,” kata Yenny kepada CNNIndonesia.com, Minggu (26/6) malam.


Cari punya cari, Yenny akhirnya mendapatkan informasi bahwa vaksin itu ada di sebuah klinik kecil di Kota Bogor. Kini, di tengah maraknya kasus vaksin palsu, Yenny khawatir jangan-jangan vaksin yang diterima putrinya waktu itu termasuk palsu.

Yenny berencana memeriksakan kembali putrinya ke dokter. Dia khawatir vaksin itu palsu sehingga khasiatnya untuk menangkal penyakit cacar tak ada.

“Ya aneh juga kan? Kok di rumah-rumah sakit besar stok kosong tapi di klinik kecil itu ada,” kata dia. “Saya curiga masalah ketersediaan barang di pasar ini akhirnya dimanfaatkan oleh orang jahat untuk membuat vaksin palsu.”

Menurut Yenny, pemerintah harus memastikan stok vaksin ada sehingga tidak memberikan celah pada pelaku kejahatan. Kemudian, harga vaksin yang berkualitas juga sebaiknya bisa lebih terjangkau rakyat kebanyakan.

Saran untuk Orang Tua

Sebagai ibu, Yenny memiliki tiga putri, buah perkawinannya dengan Dhohir Farisi. Dalam menyikapi masalah vaksin palsu ini, Yenny menyarankan orang tua lebih cerewet saat hendak memberikan vaksin pada anak-anaknya.

“Orang tua harus banyak tanya kepada rumah sakit atau dokter yang memberikan vaksin,” katanya.

Orang tua harus bisa memastikan betul bahwa vaksin yang akan diberikan pada anak-anaknya adalah vaksin yang asli dan dibeli dari jalur resmi. Yenny juga mengimbau orang tua tak begitu saja percaya pada iming-iming harga vaksin yang miring.

Penangkapan Pemalsu Vaksin

Penangkapan pelaku pemalsu vaksin terjadi di Bekasi dan Subang, Jawa Barat. Di Bekasi, pada Mei lalu, ditangkap seorang berinisial J. Dari pengembangan kasus ini, polisi menangkap 10 orang lagi di tempat yang berbeda dan peran yang berbeda pula.

Kemudian di Subang, tiga orang ditangkap polisi dalam kasus yang sama. Sebuah pabrik juga digerebek di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Pabrik ini membuat vaksin campak, polio, hepatitis B, tetanus, dan BCG.

Selanjutnya, polisi menciduk sepasang suami istri bernama Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina di sebuah perumahan mewah di Bekasi. Dari tangan mereka polisi menyita 36 dus vaksin palsu. Tiap-tiap dus berisi 800 vaksin. (ded/ded)