Demikian hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis di kantornya, Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Selasa (13/9).
Survei CSIS ini dilakukan pada 8 hingga 15 Agustus 2016 dengan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur dengan jumlah sampel 1.000 responden yang tersebar di 34 provinsi dan margin of error sebesar 3,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kedua hal tersebut, ia menjelaskan, ada delapan alasan lainnya, yakni pertumbuhan ekonomi yang melambat, politikus dan pejabat yang tak mampu menyelesaikan masalah bangsa, sistem perlindungan kesehatan dan sosial yang belum memadai, ketidakstabilan dunia internasional, permasalahan terorisme dan pengungsi, serta independensi dan objektivitas pemberitaan.
"Keyakinan itu dapat dilihat pada empat bidang, yaitu hukum, ekonomi, dan maritim," ucapnya.
Vidhyandika menjabarkan, pada bidang hukum publik masih yakin akan komitmen untuk memperkuat lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mendorong reformasi di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan memberantas mafia peradilan.
Kemudian di bidang ekonomi, publik yakin pada enam komitmen Pemerintahan Jokowi-JK, yakni meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan industri dalam negeri, melindungi usaha kecil dan menengah, meningkatkan daya beli masyarakat, menaikkan pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 persen, serta menumbuhkan iklim investasi.
Sementara pada bidang maritim, publik yakin pada komitmen memperkuat pertahanan, membangun infrastruktur, dan mewujudkan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia.
"Optimisme ini kebanyakan berasal dari masyarakat yang ada di tinggal pedesaan, pulau Jawa, dan berjenis kelamin laki-laki," ucapnya. (obs)