Kala Ahok Meninggalkan Warga Jakarta Demi Megawati

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 22/09/2016 06:32 WIB
Kala Ahok Meninggalkan Warga Jakarta Demi Megawati Gubernur Jakarta Ahok mengaku sudah mengosongkan jadwal untuk pengumuman PDIP di Pilkada DKI Jakarta, Selasa (20/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka, pagi itu, Selasa (21/9), sudah membentuk barisan dari dermaga menuju panggung kegiatan, tempat sang gubernur akan memberikan sambutan.

Barisan itu panjangnya kira-kira 300 meter. Mereka menanti kedatangan orang nomor satu di DKI Jakarta, yaitu Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok.

Saat kapal yang ditumpangi Ahok terlihat semakin mendekat, warga lantas tersenyum. Harapan untuk bertemu secara langsung akhirnya kesampaian. Lebih dari itu, mereka berharap bisa bersalaman bahkan berfoto bersama.


Ahok mengunjungi masyarakat di Pulau Pramuka untuk meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Momen ini sangat penting bagi warga Kepulauan Seribu. Pemprov DKI mendirikan RPTRA untuk memberikan ruang taman bermain, tumbuh kembang, serta menjadi tempat berinteraksi yang menjanjikan bebas polusi dan hijau.

Ternyata, hari ini juga menjadi momen penting bagi Ahok, yaitu pengumuman apakah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendukungnya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 atau tidak.

"Mohon maaf, saya harus cepat-cepat pulang soalnya nanti malam ada penentuan partai itu (PDIP) bakal dukung saya atau enggak," kata Ahok mengakhiri sambutannya dihadapan warga di Pulau Pramuka, kemarin.

Ahok yang semula berniat keliling Kepulauan Seribu untuk melihat tambak ikan, mengurungkan niatnya. Dia pulang cepat dari sana.

Bahkan, Ahok mengaku sudah mengosongkan jadwal untuk dapat menghadiri pengumuman partai pemilik suara terbesar di DKI Jakarta itu.

Ahok diminta berjaga-jaga oleh wakilnya yang juga kader PDIP, Djarot Saiful Hidayat. Djarot, menurut Ahok, diberi tahu oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

"Saya diberi tahu (oleh Djarot) bahwa malam ini akan ada pengumuman di DPP PDIP. Diharapkan kalau bisa saya kosongkan waktu, siapa tahu diundang, suruh datang ke pengumuman itu," tutur Ahok.

Usai meninjau RPTRA dan meladeni warga berfoto bersama, Ahok bergegas menuju kapal milik Dinas Perhubungan DKI. Mantan Bupati Belitung Timur itu kembali menuju Dermaga Marina, Ancol, Jakarta.

"Sampai ketemu ya, mudah-mudahan nanti di Lenteng Agung (Kantor DPP PDIP, sebelum pindah ke Jalan Diponegoro)," ujar Ahok kepada wartawan, memberikan sinyal.

Dari Ancol, Ahok menuju Balai Kota. Dia mengaku menyelesaikan beberapa disposisi sambil menunggu undangan PDIP. Ahok juga mengatakan ingin sowan ke kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Kalau Ibu Mega ada waktu pasti saya temui, kayak biasanya. Iya (ke rumah Mega), siapa tahu Ibu Mega mau ajak makan malam kan," kata Ahok sebelum masuk ke ruang kerjanya di Balai Kota.

Keinginan Ahok terpenuhi. Pukul 17.20 WIB, Ahok terlihat meninggalkan Balai Kota menuju rumah Mega di Jalan Teuku Umur. Dengan mobil bernomor polisi B 1966 RFR, Ahok masuk melalui pintu kedua rumah Megawati sekitar pukul 17.27 WIB.

Dua puluh menit berlalu, Ahok keluar dari kediaman Mega menuju Balai Kota. Dari dalam mobil, Ahok mengaku belum tahu apakah diusung PDIP atau tidak. Ahok diminta menunggu hingga pukul 20.00 WIB.

Dalam pertemuan itu selain membahas pencalonan, Ahok ternyata mengaku dikritik banyak omong. 

"DPP (PDIP) bilang kami ngomong terlalu banyak lah, nyerang. Ada Bambang DH juga di situ. Ada Mbak Puan juga. Terus dia bilang Pak Ahok jangan ngomong apa gitu. Saya bilang habis dicegat mereka (wartawan) tanya gimana, masa enggak saya jawab," kata Ahok.

Ahok kembali masuk ke ruangannya di Balai Kota. Dia baru keluar pukul 20.00 WIB. Ketika ditanya hendak ke mana. Ahok menjawab dia ingin pulang. Ahok mengaku masih belum mendapatkan telepon dari Djarot. 

"Pulang, pulang, pulang. Tunggu aja (pengumuman PDIP) di TV, di mobil," ujar Ahok.

Ahok lalu naik ke dalam mobil. Tak lama, ternyata Ahok bukan pulang ke rumah, tapi tiba di DPP PDIP bersama Djarot.

Keputusan di injury time, PDIP mengusung petahana Ahok-Djarot di Pilkada 2017.

Hari yang dimulai dari Kepulauan Seribu menuju Balai Kota, Rumah Mega, lalu kembali ke Balai Kota dan bahkan sempat mengaku akan pulang, ternyata berakhir di DPP PDIP dengan senyum mengembang. Drama tarik ulur politik Ahok dan PDIP berbuah hasil. Dua kubu itu bersatu di Pilkada 2017.



(rel/rel)