Selain itu, bagi Linda, Herawati adalah sosok yang bisa menjadi panutan bagi aktivis perempuan lainnya. Bahkan di usianya yang tak lagi muda, Herawati masih setia memperjuangkan perempuan untuk bisa mendapatkan haknya.
"Bahkan saya masih ingat, sebelum meninggal beliau berkeinginan agar semua perempuan, setiap perempuan di Indonesia, bisa menggunakan hak pilihnya dengan baik," kata Linda, saat ditemui CNNindonesia.com di kawasan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (30/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perempuan saat itu memang banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya. Jadi beliau mendirikan yayasan ini supaya perempuan menggunakan hak pilihnya dan bisa pilih sesuai keinginan," ucap Linda.
"Dia tidak membeda bedakan orang, mau siapapun dia siapa, dia bantu kalau memang memerlukan bantuan," katanya
Pada Jumat, Herawati Diah meninggal dunia pada usia 99 tahun. Dia meninggal tepat pukul 04.20 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.
Herawati yang lahir pada 3 April 1917 di Tanjung Pandan, Belitung, merupakan putri dari pasangan Raden Latip, seorang dokter yang bekerja di Billiton Maatschappij, dan Siti Alimah.
Seperti dilansir Antara, Herawati adalah istri dari tokoh pers BM Diah yang bekerja di Koran Asia Raya dan pernah menjabat Menteri Penerangan. Bersama sang suami pada 1 Oktober 1945 mendirikan Harian Merdeka.
Semasa hidupnya, ia berkesempatan mengecap pendidikan tinggi. Lepas dari Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta, Herawati bersekolah ke Jepang di American High School di Tokyo. Setelah itu, atas dorongan ibunya, Herawati berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar sosiologi di Barnard College yang berafiliasi dengan Universitas Columbia, New York dan lulus pada tahun 1941.
Dia pulang ke Indonesia pada 1942 dan kemudian bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI). Selanjutnya bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku. Pada 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia.
Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955. The Indonesian Observer bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir 1999.
(asa)
Lihat juga:Wartawati Senior Herawati Diah Berpulang |
Dia pulang ke Indonesia pada 1942 dan kemudian bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI). Selanjutnya bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku. Pada 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia.
Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955. The Indonesian Observer bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir 1999.