Hal itu diungkapkan oleh perwakilan dari Koalisi Advokasi Hak Anak Indonesia (KAHAI) Ilma Sovri Yanti saat melakukan mediasi dengan Direktur Rehabilitasi Sosial Anak dari Kementerian Sosial Republik Indonesia Nahar, Kamis (6/10), di Jakarta.
Ribuan anak itu merupakan bagian dari 8.187 warga eks-Gafatar yang diusir dari Kalimantan Barat pada Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilma kemudian memperkenalkan salah satu ibu eks-Gafatar, Parmi, yang mengaku khawatir dengan proses tumbuh kembang anaknya. Setibanya di daerah asalnya di Tangerang, banyak penduduk sekitar yang mencibir ketika bertemu anaknya.
Untuk menghindari penolakan terhadap anaknya, Parmi mengaku memilih untuk mengajarkan sendiri pelajaran sekolah kepada anaknya di rumah.
Parmi juga membeli buku berbekal uang hasil jerih payah suaminya yang bekerja sebagai kuli panggul. Hingga akhirnya pada satu titik, Parmi memberanikan diri untuk mengajak putranya ke tempat les yang sering dikunjungi oleh anak-anak sekitar kontrakannya.
Namun, Parmi menganggap dirinya hanyalah segelintir orang yang beruntung karena pemerintah daerah dapat mengayomi warga dengan baik.
Ida Zubaidah, warga eks-Gafatar asal Bogor, menuturkan kisah yang lebih tragis mengenai sahabatnya sesama eks-Gafatar yang kini tinggal di Majalengka, Jawa Barat.
Dicap Teroris
Sebelum tiba di tempat tinggal asalnya masing-masing, Ida dan sahabatnya yang tak mau diungkap identitasnya ini sempat ditampung di dinas sosial di beberapa daerah.
Saat tiba di Cimahi, Jawa Barat, anak dari sahabatnya ini diperiksa dan diambil datanya untuk pengarsipan dinas sosial. Mereka difoto dengan posisi tegak sambil memegang karton polos.
Keluarga sahabat Ida itu terkejut ketika tiba-tiba, warga sekitar mendatangi rumah sementara mereka dan berteriak, "Anak kamu itu teroris! Kamu tidak boleh tinggal di sini!"
Para warga itu membawa secarik kertas yang menunjukkan foto anaknya memakai baju oranye dan memegang papan bertuliskan "Teroris".
"Mereka memodifikasi fotonya. Bajunya waktu difoto pertama kali itu ya baju biasa, tapi tiba-tiba jadi oranye. Papannya juga tadinya kosong, tapi jadi ada tulisan teroris," tutur Ida.
"Masih banyak yang lainnya juga. Dalam perjalanan dari Kalimantan dengan kendaraan dan cuaca yang tidak mendukung, banyak anak sakit dan tidak mendapat penanggulangan baik. Ada pula yang mendapat trauma psikologi parah," katanya.
Menanggapi segala keluhan ini, Nahar mewakili Kementerian Sosial meminta KAHAI untuk menyusun data anak-anak eks-Gafatar dengan rapi sehingga pemerintah dapat memetakan solusinya dengan baik.
"Data ini kan masih tersebar. Saya ingin teman-teman susun setidaknya mengandung empat unsur, yaitu identifikasi masalah, identitasnya, lokasinya di mana, dan penanganan yang dibutuhkan apa agar kami dapat segera berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait," kata Nahar.
(asa)