Sejak memimpin Filipina pada 30 Juni lalu, Duterte menyatakan perang terhadap narkotik dengan cara menembak mati para pengedar.
"Bila memang dibutuhkan dan bila memang diharuskan karena ada suatu tindakan perlawanan, kami akan lakukan cara itu," ujar Budi di Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus tegas, tidak boleh main-main karena yang kami selamatkan adalah generasi bangsa," tuturnya.
Budi membenarkan pernyataan Jokowi tersebut. Ia menuturkan, BNN dan badan peradilan selama ini kerap menjatuhkan vonis ringan kepada pengedar narkotik.
"Hukuman mati relatif sedikit, hanya puluhan saja, dibandingkan dengan 15 ribu generasi Indonesia yang meninggal dunia," ucapnya.
Sebelum ini, Budi Waseso telah mewacanakan sejumlah program untuk memunculkan efek jera bagi para pengedar dan bandar narkotik. Program itu antara lain pemenjaraan di pulau terpencil dan penggunaan binatang buas untuk menjaga penjara khusus narapidana narkotik.
"Jika anda mengetahui keberadaan pecandu, bunuh mereka karena jika orangtua mereka yang melakukan itu, tindakan itu akan terlalu menyakitkan," kata dia.
Pada beragam kesempatan, Duterte secara gamblang mempublikasikan sikapnya terhadap pengedar narkotik. Seperti dilansir CNN, Duterte berkata, "Jika mereka melawan penindakan, dan dia melawan sampai titik darah penghabisan, anda dapat membunuhnya."