"Percuma kalau dialog damai tapi orangnya (Rizieq) berubah-ubah dan terus seperti ini. Tidak ada gunanya dialog sama dia," kata Sylver saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (18/1).
Rizieq sebelumnya di Kompleks Parlemen mengajak para pihak yang melaporkan dirinya ke polisi untuk melakukan dialog nasional. Menurut Rizieq, dialog diadakan agar tidak terjadi adu domba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada kata damai buat Rizieq. Kami akan teruskan sampai ke pengadilan," kata Sylver.
Solidaritas Merah Putih melaporkan ceramah Rizieq yang menyinggung soal mata uang berlogo 'palu-arit' dan juga mempertanyakan Presiden Joko Widodo sebagai seorang komunis.
Dalam video berdurasi 13 menit yang diunggah oleh akun resmi FPI TV ke media sosial, Rizieq seolah meyakinkan masyarakat yang hadir di tengah ceramahnya, bahwa logo di mata uang rupiah yang baru betul-betul berlambang palu arit.
"Bagian yang bukan palu arit disamarkan kami tanya saudara, sejak kapan uang negara pakai palu arit, ini bukan fitnah, ini fakta, fakta." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Rizieq.
Selain itu, dalam video tersebut juga Rizieq berkata, "Presiden bertanggung jawab, kan yang ngomongin Presiden ada duit baru, yang meresmikan presiden ada duit baru, saudara. Apa dia lupa? Dia enggak lihat, kalau di sana lagi-lagi palu arit lagi, atau memang presidennya yang PKI?"
Serentak yang mendengarkan ceramah Rizieq pun bersorak "Betul".
Sylver melanjutkan, dalam pekan ini, polisi akan memanggil pelapor dan saksi untuk dibuat berita acara pemeriksaan.
"Kami akan di BAP minggu ini. Kami juga akan menyerahkan data tambahan," katanya.
Hingga saat ini, terdapat enam laporan dugaan pidana yang dilakukan Rizieq, lima laporan ditangani Polda Metro Jaya, dan satu laporan oleh Polda Jawa Barat.
Enam laporan tersebut dibagi dalam tiga kasus, yaitu omongan Rizieq soal 'palu-arit', "Kalau Tuhan beranak, terus bidannya siapa?" dan Pancasila.
Para pelapor adalah Solidaritas Merah Putih, Jaringan Muda Anti Fitnah (JIMAF), Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Student Peace Institute, dan Ketua Umum Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Sukmawati Soekarnoputri.