Tuntut Kesetaraan, Aktivis Perempuan Gelar Aksi Jalan Kaki

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Rabu, 08/03/2017 16:43 WIB
Tuntut Kesetaraan, Aktivis Perempuan Gelar Aksi Jalan Kaki Aksi memperingati Hari Perempuan Internasional di Jakarta, Rabu (8/3). (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivis perempuan menggelar aksi jalan kaki di Jakarta dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasiona, Rabu (8/3). Dalam aksi tersebut, mereka menunut keseteraan karena diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih kerap terjadi. 

Koordinator Program Solidaritas Perempuan Nisa Yura mengatakan, diskriminasi pada perempuan selama ini terjadi, baik dalam bentuk fisik maupun psikologi. Menurutnya, sistem patriarki masih sangat kental di Indonesia.

"Kami tahu tidak bisa melawan sistem patriaki yang mendominasi negara ini, tapi kami hanya minta hak kami disetarakan," kata Nisa.
Nisa mengatakan, masih banyak sistem kerja yang tidak ramah terhadap perempuan saat ini. Bahkan, tidak sedikit perempuan mengalami pelecehan seksual hingga berujung pada kekerasan seksual di tempat kerja.


"Ini banyak terjadi di lingkungan kerja pemerintahan," katanya.

Nisa juga menuntut agar pemerintah lebih memperhatikan para pekerja perempuan di berbagai sektor. Banyaknya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini malah semakin menyudutkan perempuan.

"Kami minta hak perempuan, hak buruh perempuan, hak petani perempuan, nelayan perempuan, perjuangan kami agar kaum perempuan bisa lebih dihargai dan dihormati keberadaanya," kata Nisa.
Semula, aksi akan digelar di depan Istana Kepresidenan. Namun massa dicegah dan hanya bisa sampai di Bundaran Patung Kuda. Petugas beralasan, saat ini di Istana tengah ada jamuan kenegaraan.

Nisa mengaku tak heran jika aksi tersebut ditolak oleh Istana. Dia menyebut, bukan hanya kali ini Istana tak mau menerima warga yang akan menyalurkan aspirasinya.

"Sudah berkali-kali pemerintah saat ini mencoba untuk membungkam masyarakat yang akan menyuarakan gagasannya, kami dibungkam pelan-pelan oleh pemerintah dengan mencoba sedikit demi sedikit menghilangkan hak ruang publik kami," kata Nisa.

(sur)