Marzuki merasa, tuduhan dirinya menerima uang hasil korupsi e-KTP merupakan tindakan pencemaran nama baik. Ia menyebut tidak pernah menerima uang dari korupsi tersebut.
“Tuduhan itu adalah pencatutan. Saya mau lapor ke polisi. Mungkin ke Bareskrim saja sekalian,” ujar Marzuki kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:KPK Tak Pusingkan Dampak Politik Kasus e-KTP |
“Nah saat masuk ke MA, KPPU dimenangkan lagi tapi sanksinya kecil,” ujar Marzuki.
"Saya tidak ada kaitan dengan e-KTP, itu domain Komisi II dan Banggar. Dia (kedua domain itu) di bawah koordinasi salah satu Wakil Ketua DPR. Tak bersentuhan sama sekali dengan saya," ujarnya.
Lihat juga:Mengusut Nama Besar di Korupsi Proyek e-KTP |
Terdakwa Irman bersama penyedia barang/jasa di Kemendagri Andi Agustinus alias Andi Narogong sempat menemui Ketua Fraksi Golkar DPR Setya Novanto untuk meminta dukungan.
Irman dan Andi meminta kepastian kesiapan anggaran untuk proyek penerapan e-KTP. "Atas pertanyaan itu, Setya Novanto mengatakan bahwa ia akan mengoordinasikan dengan pimpinan fraksi lainnya," kata jaksa.
Selanjutnya, Andi semakin sering bertemu dengan Setya. Selain itu, Andi juga kerap menemui dua politikus Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Muhammad Nazaruddin.
"Mereka dianggap sebagai representasi Partai Demokrat dan Partai Golkar yang dapat mendorong Komisi II menyetujui anggaran proyek e-KTP," tutur Jaksa.
Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, kemudian diperoleh kesepakatan bahwa DPR akan menyetujui anggaran pengadaan e-KTP sekitar Rp5,9 triliun yang proses pembahasannya akan dikawal dua fraksi, Demokrat dan Golkar. (rdk)