Hal tersebut ia sampaikan usai menyusuri salah satu sungai terbesar yang melintas di kota Jakarta tersebut bersama Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono, pada Kamis (30/3).
Iskandar mengungkapkan, setidaknya, ada 25 hingga 30 persen bagian dari total 19 kilometer Sungai Ciliwung dari Jembatan Gedong TB Simatupang, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan hingga Pintu Air Manggarai yang tak akan dipasangi turap atau dinding beton demi menjaga keasrian daerah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasannya, ia melanjutkan, lantaran sebagian besar bibir sungai yang membelah kawasan padat penduduk di wilayah Condet masih terjaga oleh batu cadas. Batu cadas sendiri adalah tempat tinggal alami bagi hewan amphibi yang hidup di air dan darat, seperti biawak.
"Biawak yang belakangan langka, sekarang sudah kembali. Ini salah satu bukti bahwa bentang alam yang ada adalah habitat terbaik," kata Iskandar.
Adapun wilayah bibir Sungai Ciliwung lainnya yang menurut Iskandar tidak akan diganggu keasriannya dengan pembangunan turap adalah kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatab. Pembangunan terkait jalur inspeksi atau saluran air nantinya akan dipikirkan sedemikian rupa agar tidak mengganggu bentang alam lingkungan tersebut.
"Jadi, prinsipnya, tetap menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan-kawasan tersebut tidak akan kami sentuh beton. Kalaupun dilakukan, karena terpaksa, misal karena kondisi tanah yang labil," jelasnya.