Rustan menyatakan sebagai nelayan yang lahir dan tumbuh di Tarakan, dia tidak berpikir untuk pindah ke wilayah perairan lain. Apalagi, kapasitas kapal yang dia miliki hanya mampu berlayar sejauh dua mil dari garis pantai Tarakan.
Kapal berukuran 4 GT dengan alat tangkap jenis gill net menemani Rustan hingga mampu menghidupi sembilan anak dan seorang istri. "Kadang sedih juga, kapal saya mana bisa berlayar jauh, pernah dapat ikan tapi benar-benar cuma cukup untuk kami makan saja," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu kapal nelayan (ANTARA FOTO/Rahmad) |
Soal ini, Rustan tak sendiri. Ada pula Syafi'i yang memutuskan menjadi nelayan di Juwana, Pati, Jawa Tengah, sejak 1993 dari sebelumnya bertani.
Tetapi dia juga mengharapkan peningkatan kesejahteraan. Syafii menyatakan dirinya mengharapkan predikat nelayan tradisional alias miskin, bisa naik kelas, menjadi nelayan tradisional berkecukupan.
Salah satu aktivitas nelayan di Sangihe, Sulawesi Utara. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/Asf/pd/15) |
Data KKP memang menyebutkan sumber daya ikan kelimpahannya meningkat dari 7,31 juta ton pada 2013 menjadi 9,93 juta ton pada 2015. Produksi perikanan pun meningkat dari 19,42 juta ton per tahun pada 2013 menjadi 21,72 juta ton per tahun. Ini terdiri dari rumput laut, ikan budidaya hingga ikan tangkap.
Menteri Susi bisa jadi tak berdiam diri.
Setelah melakukan evaluasi kinerja KKP pada 2016, KKP berupaya mengefektifkan anggaran Rp9,7 triliun untuk menjaga ketimpangan tak melebar pada tahun ini.
KKP, kata Susi,menargetkan peningkatan kemampuan semua pelaku industri perikanan di Indonesia, khususnya para pelaku pada skala kecil dan menengah.
Dia menyebut, tidak boleh ada perlakukan khusus untuk perusahaan perikanan besar, sedangkan nelayan kecil justru malah dipersulit.
"Semua harus sama rata. Pelaku industri besar maju, nelayan kecil tradisional juga sejahtera," kata Susi.
Pertumbuhan PDB sektor perikanan pun meningkat dalam dua tahun terakhir. Pada 2014, PDB mencapai 7,35 persen menjadi 8,37 persen pada 2015. Secara statistik, kinerja Susi bisa jadi menggembirakan.
Mengurangi Ketimpangan
Di sisi lain, KKP juga berupaya mengurangi ketimpangan dengan membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil. Tujuannya, membangun Indonesia dari pinggiran.
Pada tahun ini, misalnya, pemerintah membangun SKPT di 12 lokasi utama. Tempat ini terdiri dari Sabang, Mentawai, Natuna, Nunukan, Talaud, Rote Ndao, Sumba Timur, Saumlaki, Morotai, Merauke, Biak Numfor, dan Mimika.
“SKPT dimaksudkan untuk mengakselerasikan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan pulau mandiri dan terpadu,” kata Susi.
Janji kesejahteraan pula, yang mungkin ditunggu oleh Rustan hingga Syafii hingga hari ini. Dari Tarakan hingga Pati, keduanya berusaha—sekaligus mengharapkan—ada perubahan dalam hidupnya.
Salah satu kapal nelayan (
Salah satu aktivitas nelayan di Sangihe, Sulawesi Utara. (