Peksi Cahyo dan Tiga Rahasia Fotografi Olahraga

Patricia Diah Ayu, CNN Indonesia | Kamis, 04/05/2017 15:59 WIB
Peksi Cahyo mendapatkan Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2015 berkat karyanya memotret Daud Jordan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa yang harus dipunyai seorang yang ingin jadi fotografer olahraga sukses? Jika Anda menanyakannya pada Peksi Cahyo, jawabannya adalah kesabaran.

Fotografi olahraga memang sedikit berbeda dari foto jurnalistik pada umumnya. Ia dibatasi ruang dan waktu, entah itu 2x45 menit di lapangan sepak bola atau 4x10 menit di lapangan basket yang berukuran lebih kecil. Dalam batasan-batasan itu, para fotografer harus menangkap gerak dan momen yang terkadang muncul hanya sepersekian detik. Sedikit saja lengah bisa berarti ‘petaka’.

Peksi berpendapat, bentuk arena apapun hanya bisa ditaklukkan melalui kesabaran karena tak ada yang bisa memprediksi momen yang akan terjadi.


Bagi Peksi, pekerjaan fotografer olahraga bahkan hampir sama dengan atlet itu sendiri. Selain butuh kesabaran, juga perlu daya tahan yang kuat karena harus memiliki konsentrasi dan fokus yang baik.

Selanjutnya, masih menurut Peksi, penting untuk mensinkronisasi gambar yang ingin didapat dengan proses kreatif. Caranya dengan mempelajari perilaku sang pemain, paham tata letak stadion, memilih sudut tepat, hingga pemilihan lensa.

Satu hal lain yang tak kalah penting adalah riset.

"Perlu, karena mengamati perilaku orang, mulai dari di dalam lapangan sampai penonton, atau perilaku The JakMania dengan suporter Persib, itu berbeda. Antara SM (Satria Muda) dan Aspac beda. Hal itu mesti dipelajari kalau benar-benar mau memadukan hati dan kepala," ucap Peksi yang berbincang dengan CNNIndonesia.com akhir pekan lalu.

Peksi mengawali kariernya sebagai foto jurnalis. Namun, pada 2003, ia memantapkan hati terjun di fotografi olahraga dengan bergabung Tabloid Bola.

Itu pun terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Peksi yang merupakan fotografer Sinar Harapan, merasa berada di titik yang memaksanya untuk mengembangkan diri.

Peksi sebenarnya sudah sampai pada tahap wawancara di kantor berita EPA (European Pressphoto Agency). Namun di tengah jalan, dia mendapatkan panggilan dari Tabloid Bola. Ia pun mengubah pilihan.

"Mungkin seperti dalam tanda kutip sudah jalannya. Waktu itu, somehow, enggak tahu kenapa, ingin ke tukang koran baca-baca saja. Terus gue ambil (tabloid) Bola kerena sudah lama enggak langganan waktu masih di Sinar Harapan. Gue buka ternyata ada lowongan. Eh, lalu dipanggil. Akhirnya gue milih di situ," ujarnya.

Di tabloid olahraga itu Peksi bekerja 12 tahun sebelum akhirnya pindah ke bola.com pada 2015.
) Foto Profil Sergio van Dijk, penyerang timnas Indonesia asal klub Perseib Bandung dalam pertandingan Pra Piala Asia melawan Arab Saudi di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Sabtu (23/3) nanti. (Peksi Cahyo/Bola)Foto Profil Sergio van Dijk, penyerang timnas Indonesia asal klub Perseib Bandung dalam pertandingan Pra Piala Asia melawan Arab Saudi di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Sabtu (23/3) nanti. (Peksi Cahyo/Bola)

Sebagai fotografer olahraga, Peksi menilai olahraga yang sangat sukar diabadikan adalah lari. Ini karena banyak hal harus dipertimbangkan dalam waktu pertandingan yang sangat singkat, mulai dari perencanaan pengambilan gambar, hingga penentuan posisi mengambil foto.

Pria kelahiran Jakarta, 19 April 1976 ini mengaku keberuntungan tetap jadi hal penting bagi fotografer olahraga. Tapi nilainya tak lebih tinggi dari teknik dan juga persiapan.

"Luck, persiapan, dan teknik. Nah ketiga itu harus dikombinasikan. Tapi kembali lagi, kadang-kadang Anda punya skill luar biasa, punya persiapan, tapi lagi enggak ketemu luck. Gitu saja," ucapnya.

"Tapi yang bisa saya pastikan, kalau Anda enggak punya skill dan enggak punya persiapan, Anda enggak akan dapat luck. Kayak matematika hukum persamaan, ini plus ini sama dengan itu."

1 dari 2


BACA JUGA