Rizieq memilih bertahan di luar negeri karena khawatir dipermalukan dalam perkara dugaan percakapan mesum. Dia menduga kepolisian memang berniat memperkarakan dia dalam kasus tersebut.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Koentjoro mengatakan, Rizieq terlalu berlebihan dalam memprediksi kemungkinan yang terjadi dalam kasus tersebut. Pola pikir itu pada akhirnya membuat Rizieq tidak berani memenuhi panggilan pemeriksaan kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau menggunakan konsepnya Ki Ageng Suryomentaram, yang terjadi pada Habib Rizieq itu adalah 'kecemplung gagasan'. Artinya belum apa-apa sudah takut,” ujar Koentjoro kepada CNNIndonesia.com, semalam (16/5).
Lihat juga:Kasus Rizieq Mustahil Dibawa ke PBB |
Penjual poster Rizieq Shihab saat ratusan orang dari Front Pembela Islam (FPI) pagi ini menggelar demontrasi di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, 24 Maret 2015. (CNN Indonesia/ Safir Makki) |
“Jadi tidak usah lari. Hadapi yang terjadi. Itu gentle. Kalau tidak, masyarakat bertanya-tanya selama ini yang diperjuangkan apa,” ujarnya.
“Saya tidak tahu alasan utama beliau tidak kooperatif. Tapi tentu saja Indonesia sedang menghadapi tantangan berat untuk rasa keadilan dan itu menimbulkan perasaaan cemas,” ujar Kasandra.
Terlepas dari itu, kata dia, Rizieq bagaimanapun harus siap menerima risiko dijemput paksa oleh kepolisian untuk diperiksa atau ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
“Hukum tidak menunggu inisiatif. Akan ada mekanisme jemput paksa, Sebenarnya lebih tidak enak,” ujarnya.
“Kalau tidak bersalah kenapa harus takut. Dia harus belajar dari Ahok yang secara gentlemen menghadapi seluruh proses hukum,” ujar Hamdi.
Rizieq Shihab saat berorasi di depan Gedung KPK menuntut pengusutan kasus dugaan korupsi lahan RS Sumber Waras beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Rizieq yang didukung oleh sekian banyak peserta demo Aksi Bela Islam, kata Hamdi, seharusnya tidak bersikap layaknya rakyat kecil yang takut terhadap proses hukum di kepolisian.
“Bukankah dia sedang disanjung oleh banyak orang. Apanya pula yang mesti ditakutkan. Kalau rakyat kecil takut menghadap polisi karena bisa abuse, misalnya dipukul seperti yang banyak disebut orang oleh aparat masih bisa kita mengerti,” ujarnya.
Lebih dari itu, Hamdi menilai segala alasan keberadaan Rizieq di luar negeri yang berujung pada rencana penerbitan red notice Kepolisian bisa membuat kemarahan sebagain masyarakat. Ia menilai, Rizieq telah mempermaikan negara dengan segala alasannya tersebut.
“Negara sudah sepatutnya tegas. Pemanggilan paksa memang harus dilakukan,” ujar Hamdi.
Penjual poster Rizieq Shihab saat ratusan orang dari Front Pembela Islam (FPI) pagi ini menggelar demontrasi di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, 24 Maret 2015. (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Rizieq Shihab saat berorasi di depan Gedung KPK menuntut pengusutan kasus dugaan korupsi lahan RS Sumber Waras beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)