Hal itu disampaikan Ketua Koordinator JPPI Ubaid Matraji menanggapi video yang beredar tentang anak-anak yang meneriakkan, “bunuh … bunuh si Ahok sekarang juga…” Dia menuturkan sejumlah hal yang harus dievaluasi adalah materi Pendidikan Agama Islam (PAI) termasuk kualitas gurunya.
Ubaid menegaskan pihaknya melihat konten agama Islam di sekolah umum relatif masih mengajarkan hal-hal yang intoleran terhadap warga yang berbeda. Sehingga, papar dia, ada anggapan bahwa ‘saya muslim’ dan ‘anda kafir.’
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, anak-anak tersebut dikhawatirkan akan tumbuh dengan memusuhi kelompok yang berbeda dengan dirinya sebagai orang Islam.
Diketahui, video yang menyebar di media sosial itu merekam anak-anak berteriak dan bernyanyi dengan kalimat yang mengandung kekerasan, diduga diambil saat pawai menyambut bulan Ramadan di satu kawasan di Jakarta, Rabu (24/5).
Kalimat yang diucapkan adalah: “bunuh … bunuh … bunuh si Ahok … bunuh si Ahok sekarang juga.”
JPPI meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera mengevaluasi materi ajaran PAI yang mengajarkan intoleransi.
Ubaid menuturkan pihaknya meminta agar pendidikan guru PAI pun dapat menggandeng organisasi Islam moderat macam NU dan Muhammadiyah yang relatif memiliki pandangan toleran terhadap kelompok lainnya.
[Gambas:Youtube]
Radikal di Tingkat SMA
Dalam survei yang dilakukan Setara Institute pada Mei 2016, ditemukan sejumlah siswa SMA negeri di Jakarta dan Bandung Raya setuju dengan sistem khilafah dan perjuangan ISIS. Dalam riset itu dipaparkan, terdapat 11 persen siswa yang menyatakan khilafah adalah sistem terbaik.
Survei itu dilakukan di 171 sekolah di Jakarta dan Bandung Raya dengan sampel 760 siswa.
Selain itu, ada pula yang mendukung apa yang diperjuangkan oleh ISIS. “Terdapat 1 persen responden yang menyatakan mendukung apa yang diperjuangkan ISIS. Ada pula 0,4 persen responden yang menyatakan mendukung aksi terorisme,” demikian Aminuddin Syarif, Peneliti Setara Institute, dalam keterangan resminya yang dikutip CNNIndonesia, Jumat (26/5).
“Terorisme adalah puncak dari intoleransi, maka kinerja pemberantasan terorisme dan radikalisme juga harus mencakup pada promosi dan penguatan toleransi bagi siswa,” kata dia.