"Saya selalu mengatakan, ayo menggalakkan kembali siskamling yang diorganisir oleh masyarakat sebagai pendeteksi dini," ujar Wiranto di kantor Kemenko Polhukam di Jakarta, Selasa (4/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teroris itu ada di lingkungan masyarakat. Tentunya, masyarakat paling duluan tahu ada perilaku ada orang yang diduga sebagai teroris," ujarnya.
Dia mengatakan, gerakan teroris bisa dideteksi selama masyarakat ikut berpartisipasi menjaga keamanan, salah satunya dengan menghidupkan kembali siskamling.
Pada akhir tahun lalu, Mendagri Tjahjo Kumolo telah memerintahkan pengurus rukun tetangga dan rukun warga (RT/RW) mengembangkan kembali siskamling. Instruksi tersebut untuk merespons maraknya penemuan bom di beberapa daerah jelang akhir tahun.
Dia mengatakan, pengembangan siskamling diperlukan sebagai upaya deteksi dini keberadaan teroris. Tjahjo juga mengimbau warga memperkuat koordinasi antartokoh agama, masyarakat, dan adat untuk mengantisipasi ancaman teror.
Bendera ISIS dipajang di pagar Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (Dok. Istimewa) |
Sementara pada Jumat (30/6), seorang yang diduga bersimpati dengan gerakan ISIS, Mulyadi menusuk dua anggota Brimob usai salat Isya di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan.
Pelaku ditembak mati oleh aparat setelah dia diduga melakukan perlawanan ketika melarikan diri ke arah Terminal Blok M.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Rikwanto menduga Mulyadi bertindak sendiri alias lone wolf. Mulyadi diyakini bergerak di diluar struktur jaringan teroris karena tidak tergabung dalam kelompok-kelompok jaringan teroris yang ada di Indonesia.
Bendera ISIS dipajang di pagar Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (Dok. Istimewa)