"Pemerintah sudah mengamati lama. Dan negara mementingkan keamanan masyarakat," kata Jokowi saat menghadiri acara partai Nasional Demokrat, Jakarta, Minggu (16/7).
Mantan gubernur DKI Jakarta tersebut mengungkapkan, ada banyak konten terkait terorisme di Telegram. Jokowi menyebut, ada ribuan konten terkait terorisme yang berseliweran di dalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhir pekan lalu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir layanan Telegram. Kemenkominfo memastikan konten radikal jadi alasan mereka menutup Telegram yang identik dengan fitur keamanan enskripsi yang tinggi.
Sebelumnya, Menkominfo Rudiantara menilai, Telegram berpotensi menyembunyikan identitas teroris yang menjadi pengguna aplikasi itu.
"Kalau dibandingkan dengan sistem lain, ini dianggap lebih aman, karena tidak enkripsi. Belum lagi, Telegram juga tidak memberikan informasi nomor telepon pengguna," tutur Rudiantara di Padang, Sumatra Barat, Sabtu (15/7).
Ia menambahkan, aplikasi itu tak hanya minus transparansi data pengguna, namun juga tak memberikan pertukaran data yang baik dengan pemerintah.