Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan, api berasal dari lahan yang dibakar warga untuk membuka perkebunan. Api mudah menyebar lantaran sudah datangnya musim kemarau.
"Hingga kemarin telah 60 hektare lebih lahan yang terbakar," ujar Kepala BPBA Yusmadi, di Banda Aceh, Senin (24/7) seperti dilansir dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Titik Api Bisa Dipantau Lewat Aplikasi |
"Ini ulah masyarakat, bukan koorporasi,”ujarnya.
Pemerintah Provinsi Riau telah memperpanjang status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan hingga November 2017, setelah berakhir pada 30 April tahun ini.
Yusmadi mengaku telah menginformasikan ke BNPB bahwa titik api di wilayah Aceh terus bertambah. Upaya pemadaman telah dilakukan namun titik api terus muncul.
Antara melaporkan, sejak tadi malam, kabut asap yang melanda Meulaboh semakin pekat. Akibat kabut asap ini, warga dilaporkan mengalami sesak nafas.
Beberapa pengendara sepeda motor di persimpangan Kisaran Meulaboh menutup bagian muka dengan kain dan baju guna menghindari hirupan asap yang sangat terasa perih pada mata dan tenggorok.
"Sakit mata, panas terasa asapnya. Cepat tutup hidung dengan baju, jangan hirup," kata seorang warga yang mengendarai sepeda motor.
Paling banyak terdapat di Nagan Raya yang terdeteksi empat titik panas, dan keempat titik tersebut berada di Kecamatan Darul Makmur.
Lalu disusul Aceh Barat dengan terpantau tiga titik panas, yang ketiganya terdapat di satu kecamatan yakni Johan Pahlawan.
Masing-masing dua titik panas terpantau di Aceh Tengah yakni Kecamatan Pegasing dan Kecamatan Linge, serta Aceh Selatan di Kecamatan Trumon dan Kecamatan Bakongan.
Terakhir Aceh Jaya terdeteksi di Kecamatan Panga, dan Aceh Barat Daya di Kecamatan Barshrot sama berbagi satu titik panas. (sur/sur)