"Ini yang menurut saya membikin madin (madrasah diniyah) menjadi berkurang itu," kata Muhadjir saat menghadiri Rapat Pleno ke-19 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertajuk Dialog Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam di Jakarta, Rabu (23/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau madin (madrasah diniyah) berkurang itu, karena memang ada alternatif pendidikan yang mana full day school yang diprakarsai organisasi dan lembaga Islam itu," lanjutnya.
Muhadjir menganggap hal itu sesuatu yang lazim, mengingat orang tua di perkotaan sibuk bekerja sejak pagi hingga sore hari. Daripada anaknya tidak terpantau sepulang sekolah, lanjut Muhadjir, orang tua di perkotaan lebih suka menitipkan anaknya di sekolah.
"Lebih praktis bagi orang tuanya, terutama di kota. Anaknya biar tetap di situ (sekolah), nanti dijemput sambil pulang kerja," papar Muhadjir.
Pernyataan ini dilontarkan setelah Nahdlatul Ulama menyinggung dampak buruk dari Permendikbud No. 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang diterbitkan Muhadjir.
NU menentang Permendikbud tersebut karena siswa dianggap terlalu lama berada di sekolah sehingga tidak dapat mengikuti madrasah diniyah.