Rantai Manusia Perempuan Sunda Wiwitan dan Polwan Berhadapan

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Kamis, 24/08/2017 10:37 WIB
Rantai Manusia Perempuan Sunda Wiwitan dan Polwan Berhadapan Para perempuan masyarakat adat sunda wiwitan menjadi yang di depan dalam rantai manusia menghadang aparat berupaya melakukan eksekusi atas tanah adat di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, 24 Agustus 2017. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)(CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Kuningan, Jawa Barat, CNN Indonesia -- Masyarakat adat Sunda Wiwitan dan simpatisan tetap berusaha menghadang upaya eksekusi lahan adat di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (24/8).

Dalam aksi tersebut, selain membuat rantai manusia, mereka yang bergabung dalam Kesatuan Adat Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan pun membakar ban untuk menutup jalan.

Mulanya di saf terdepan dari rantai manusia itu adalah para pria untuk menghadang aparat yang hendak mengeksekusi. Namun, beberapa saat kemudian, para perempuan dari masyarakat adat mengganti posisi itu.


Para perempuan yang menghadang terdepan dalam rantai manusia itu. Melihat hal tersebut, aparat kepolisian pun langsung ambil sikap. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, aparat kepolisian pun langsung bersikap. Barisan terdepan yang semula polisi pria, langsung diganti dengan kalangan polisi wanita (polwan).

Mereka, yang juga berjumlah ratusan, memajukan posisi menjadi lebih dekat dengan warga yang melakukan aksi.

Dengan demikian, para perempuan masyarakat adat Sunda Wiwitan dan Polwan beradu pandang dengan tajam. Mereka siap saling dorong. Kedua kelompok berlawanan pun terlihat sama-sama mengikatkan tangan demi memeperkuat barisan masing-masing.

"Ibu-ibu, jangan melakukan kekerasan. Jangan ada yang menjambak. Ibu-ibu Polwan ini adalah saudara kita," ujar tokoh Sunda Wiwitan, Okki Satrio, lewat pengeras suara .

"Musuh kita bukan polisi. Kita hanya punya perbedaan persepsi," lanjutnya.

Apa yang dikatakan Okki itu pun langsung disambut masyarakat adat yang membentuk rantai manusia, "Betul!"

Menyanyikan Lagu Wajib

Dalam peristiwa itu, seraya bertatap-tatapan dengan aparat, para warga menyanyikan lagu wajib. Mulanya, mata mereka begitu tajam memandang para aparat. Namun ketika menyanyikan lagu nasional berjudul Tanah Airku, perempuan-perempuan adat di barisan depan terlihat yang melakukan aksi mulai menitikkan air mata.

Rantai Manusia Wanita Sunda Wiwitan dan Polwan BerhadapanSelain membuat rantai manusia, demi menghadang polisi masyarakat adat Sunda Wiwitan membakar ban di jalan. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
"Tanah airku tidak kulupakan, kan kukenang selama hidupku," demikian penggalan nyanyian mereka.

Mereka terus bernyanyi seraya terisak. Nyanyian mereka seolah merayu aparat agar terenyuh dan tidak jadi melakukan eksekusi.

Di sisi yang lain, polwan hanya tetap memberi pandangan yang tajam. Para polwan, yang cenderung lebih muda dibanding perempuan peserta aksi, seolah bergeming. Para polwan di barisan depan itu tetap tegap pada barisannya.

Saling Dorong

Akhirnya, upaya saling dorong pun terjadi antara polisi dan masyarakat adat Sunda Wiwitan yang membentuk rantai manusia.

Para perempuan warga adat dan Polwan menjadi yang terdepan dalam aksi dorong-dorongan tersebut. Dalam pantauan CNNIndonesia.com tak diketahui tidak diketahui siapa yang mulai mendorong. Kedua pihak merasa sama-sama didorong terlebih dahulu sehingga mendorong balik.

"Tenang ibu-ibu. Jangan dorong. Enggak boleh ada yang mendorong. Kita hanya bertahan," teriak seseorang melalui pengeras suara.

Di satu pihak, ada seorang pria yang terpancing emosi dengan aksi itu. Dia mendorong dengan keras dari belakang. Aksinya dinilai provokatif, sehingga diamankan oleh rekannya.

Dia dianggap dapat membuat emosi peserta aksi dan Polwan semakin mendidih dan meletup hingga menjadi kekerasan.

"Di barisan polisi ada provokator! Itu enggak boleh!" Teriak seorang wanita dari barisan belakang.

Sementara itu di barisan perempuan adat tampak ada beberapa yang pingsan, sehingga dikeluarkan dari barisan rantai manusia. Mereka langsung dibawa ke rumah warga terdekat untuk diberi perawatan.

"Ibu-ibu, jangan ada yang berkata kasar. Kita hanya bertahan. Kita mempertahankan [hak] orang Sunda," kata orator di barisan warga adat.