Djarot: Rumah Sakit yang Diskriminatif Bisa Kena Sanksi

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Selasa, 12/09/2017 10:51 WIB
Djarot: Rumah Sakit yang Diskriminatif Bisa Kena Sanksi Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan rumah sakit yang bersikap diskriminatif soal pasien dapat terkena sanksi. (CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta menemui keluarga bayi Tiara Debora Simanjorang.

Dia juga menyampaikan agar rumah sakit tak bersikap diskriminatif karena bisa terkena sanksi.

Diketahui, Dinas Kesehatan baru mendapatkan informasi dari pihak Rumas Sakit Mitra Keluarga Kalideres dalam pertemuan Senin (11/9) kemarin.


Menurut Djarot hal informasi dari pihak keluarga diperlukan untuk meluruskan informasi yang simpang siur di masyarakat tentang kasus bayi Debora tersebut.

"Supaya tidak simpang siur, tolong ketemu sama keluarga, keluarga almarhum anak Debora. Ketemu diajak bicara. Supaya kasus ini tidak berulang lagi," kata Djarot di Balai Kota, Selasa (12/9).
Lebih lanjut, Djarot juga meminta seluruh rumah sakit di wilayah DKI Jakarta, khususnya rumah sakit swasta untuk mengambil pelajaran dari kasus bayi Debora tersebut.

"Ini pembelajaran bukan hanya bagi rumah sakit yang bersangkutan, tetapi bagi rumah sakit swasta yang lain, semua harus terima tidak boleh diskriminasi, gara-gara kamu miskin tidak punya uang muka kemudian ditelantarkan, ini bisa kena sanksi," tutur Djarot.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesahatan DKI Jakarta Koesmedi menilai ada kelalaian dari pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga terkait dengan kematian Tiara Debora Simanjorang yang berusia 4 bulan. Kesimpulan itu hasil penggalian data dan informasi terhadap pihak RS Mitra Keluarga.

"Ada kelalaian dari pada rumah sakit walaupun rumah sakit mencari tempat rujukan ke rumah sakit lain lewat telepon, tapi rumah sakit juga nyuruh keluarga pasien nyari rujukan yang seharusnya itu dilakukan rumah sakit," ujar Koesmedi di Kantor Dinkes DKI, Jakarta, Senin (11/9).

Soal Komunikasi

Selain soal kelalaian, Dinkes DKI juga menyimpulkan dua hal lain terkait kematian Debora. Pertama, dari sisi medis, tidak ditemukan ada kesalahan atau penundaan tindakan akibat biaya yang harus dibayar orang tua Debora.

Kesimpulan kedua, ada miskomunikasi antara pihak manajemen RS Mitra Keluarga kepada orang tua Debora. Komunikasi yang kurang baik ini menimbulkan salah tafsir dari yang disampaikan oleh petugas informasi.
Dalam laman resminya, RS Mitra Keluarga Kalideres memberi klarifikasinya, bahwa orang tua Debora keberatan dengan biaya uang muka ICU sebesar Rp19,8 juta. Rumah sakit juga sudah berupaya membantu mencari rumah sakit yang punya fasilitas untuk peserta BPJS.

Di saat dokter RS Mitra Keluarga sedang berkoordinasi dengan dokter di rumah sakit rujukan yang rekanan BPJS, perawat mengabarkan kalau kondisi Debora tiba-tiba memburuk. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, nyawa bayi Debora tidak dapat ditolong (asa)