Dia juga menyampaikan agar rumah sakit tak bersikap diskriminatif karena bisa terkena sanksi.
Diketahui, Dinas Kesehatan baru mendapatkan informasi dari pihak Rumas Sakit Mitra Keluarga Kalideres dalam pertemuan Senin (11/9) kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Supaya tidak simpang siur, tolong ketemu sama keluarga, keluarga almarhum anak Debora. Ketemu diajak bicara. Supaya kasus ini tidak berulang lagi," kata Djarot di Balai Kota, Selasa (12/9).
Lihat juga:Ragam Kasus Mirip Bayi Debora |
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesahatan DKI Jakarta Koesmedi menilai ada kelalaian dari pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga terkait dengan kematian Tiara Debora Simanjorang yang berusia 4 bulan. Kesimpulan itu hasil penggalian data dan informasi terhadap pihak RS Mitra Keluarga.
"Ada kelalaian dari pada rumah sakit walaupun rumah sakit mencari tempat rujukan ke rumah sakit lain lewat telepon, tapi rumah sakit juga nyuruh keluarga pasien nyari rujukan yang seharusnya itu dilakukan rumah sakit," ujar Koesmedi di Kantor Dinkes DKI, Jakarta, Senin (11/9).
Soal Komunikasi
Selain soal kelalaian, Dinkes DKI juga menyimpulkan dua hal lain terkait kematian Debora. Pertama, dari sisi medis, tidak ditemukan ada kesalahan atau penundaan tindakan akibat biaya yang harus dibayar orang tua Debora.
Kesimpulan kedua, ada miskomunikasi antara pihak manajemen RS Mitra Keluarga kepada orang tua Debora. Komunikasi yang kurang baik ini menimbulkan salah tafsir dari yang disampaikan oleh petugas informasi.
Di saat dokter RS Mitra Keluarga sedang berkoordinasi dengan dokter di rumah sakit rujukan yang rekanan BPJS, perawat mengabarkan kalau kondisi Debora tiba-tiba memburuk. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, nyawa bayi Debora tidak dapat ditolong (asa)