Usai Dipecat dari Rektor UNJ, Djaali Lapor Polisi

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Rabu, 27/09/2017 18:46 WIB
Usai Dipecat dari Rektor UNJ, Djaali Lapor Polisi Djaali, mantan rektor UNJ, kini melaporkan Ketua Tim EKA Kemenristekdikti dan seorang dosen UNJ atas tuduhan mencemarkan nama baik. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Djaali hari ini melaporkan Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kemenristekdikti Supriadi Rustad dan dosen UNJ Ubedilah Badrun ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Keduanya dituduh melakukan fitnah dan mencemarkan nama baik Djaali. 

Kuasa Hukum Djaali, Agus Kilikili mengatakan, Supriadi melakukan pencemaran nama baik dan fitnah atas pernyataannya terkait praktik plagiarisme dan jual beli ijazah di UNJ. Menurut Agus, Supriadi melontarkan pernyataan itu tanpa bukti.

Kasus plagiarisme itu menjadi salah satu alasan Menristekdikti Muhammad Nasir memberhentikan sementara Djaali dari jabatan rektor UNJ.


"(Kami melaporkan) Supriadi Rustad dan Ubedilah Badrun. Supriadi yang menyatakan bahwa di UNJ terjadi plagiat dan jual beli ijazah. Itu saja poinnya. Kami ingin Tim EKA harus bisa membuktikan keadaan itu, tidak ada bukti yang beliau bisa sebutkan," kata Agus usai melapor di kantor sementara Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/9).
Namun, saat diminta bukti laporan polisi atas laporan yang ia layangkan, Agus menolak. Dia juga tidak menjelaskan lebih lanjut terkait alasannya melaporkan Ubedilah.

"Mohon maaf ya," katanya singkat.

Agus menegaskan, kliennya yakin praktik plagiarisme tidak terjadi di UNJ. Menurutnya, keyakinan Djaali itu dapat dilihat dari langkah berani melaporkan Supriadi dan Ubedilah ke Bareskrim.

"Kalau beliau (Djaali) tidak yakin, tidak mungkin berani menginjakkan kaki di tempat ini," katanya.
Sebelumnya, Agus sempat berniat melaporkan Menristekdikti Muhammad Nasir ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik. Pernyataan Nasir yang menyebut Djaali melakukan plagiarisme dianggap sebagai tuduhan sepihak.

"Kami laporkan terkait pencemaran nama baik, fitnah dan keterangan palsu," kata Agus.
Usai Dipecat dari Rektor UNJ, Djaali Lapor PolisiDjaali telah diberhentikan sementara dari jabatan rektor UNJ. Kini dia melapor polisi beberapa pihak yang dianggap mencemarkan nama baiknya. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Dia menilai tuduhan Nasir terhadap Djaali tidak tepat. Menurut Agus, Djaali selaku rektor tidak berhubungan langsung dengan praktik plagiarisme di UNJ.

“Penanggung jawab plagiat itu adalah si pelaku sendiri, siapa pelakunya? Tentunya mahasiswa. Siapa lagi? Pembimbing. Itu yang terlibat dalam terjadinya plagiat," kata Agus.

Menurutnya, Nasir bersikap tidak adil dalam menyikapi praktik plagiarisme. Agus mengatakan, plagiarisme bisa terjadi di semua perguruan tinggi, bukan hanya di UNJ.
Dia menambahkan, Nasir seharusnya menyelidiki oknum pembimbing yang bermain dalam praktik plagiarisme terlebih dahulu, bukan memperkarakan Djaali.

"Ini yang sakit jempol, yang diobati kepala. Jadi Menristekdikti ini sangat tendensius sekali, enggak bagus untuk kalangan anak-anak (siswa) di Indonesia," ujar Agus.

Selain Nasir, Djaali juga berniat melaporkan Ketua Tim Independen Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti. Ali yang juga Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti dianggap melontarkan pernyataan yang menyebut Djaali membiarkan praktek plagiarisme di UNJ.

Namun niat melaporkan Nasir dan Ali dibatalkan. Menurut tim kuasa hukum Djaali, keduanya hanya menjadi saksi dalam kasus tersebut.
"Sementara ini menteri sebagai saksi. Lalu dirjen juga sebagai saksi. Ali Gufron juga sebagai saksi. Karena yang kami dapatkan yang memulai Tim EKA," kata Agus.

Sebelumnya, Nasir memberhentikan sementara Djaali dari jabatan rektor UNJ. Nasir menyebut kasus plagiarisme di kampus itu terjadi cukup masif.

"Jangan sampai berlarut-larut masalah ini. Dengan cara kami sekarang diberhentikan. Berhenti sementara," kata Nasir di kantor DPP PKB, Jakarta, Selasa (26/9).

Dia menjelaskan, keputusan untuk memberhentikan Rektor UNJ berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Tim EKA dan Tim Independen Kemenristekdikti. Kedua tim itu menemukan pelanggaran akademik di UNJ sebagaimana diatur dalam Permenristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 serta Permenristekdikti Nomor 100 Tahun 2016.