"Karena Tugu Tani simbol komunisme yang masih ada di Jakarta," ujar Koordinator FUIB Rahmat Himran perihal lokasi aksi, Rabu (27/9).
Koordinator Apel Akbar, Nanang Qosim menambahkan, aksi 299 bertujuan untuk mengingatkan masyarakat pada bahaya bangkitnya PKI dan paham komunisme. Indikasinya, sejumlah acara yang terindikasi hendak membangkitkan komunisme telah digelar. Misalnya, kata dia, Seminar 'Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965' di LBH Jakarta, serta Simposium 65 pada tahun lalu di Hotel Aryaduta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"FUIB, Barisan Garuda Pancasila dan Ormas Anti komunisme mengingatkan kepada seluruh lembaga negara, institusi pemerintahan, dan elemen bangsa Indonesia untuk tidak mendukung dan terlibat dalam kegiatan apapun yang berindikasi komunisme," ujar Nanang, yang juga Kepala Divisi Humas Forum Umat Islam itu.
Kewaspadaan tinggi ini, lanjut Nanang, terkait dengan sejarah komunisme melalui PKI yang disebutnya sudah melakukan pembantaian terhadap militer hingga para ulama, terutama dalam peristiwa G30S.
Dalam diskusi itu, dia menuntut pemerintah merobohkan Tugu Tani karena jadi simbol komunis. Patung yang menggambarkan seorang perempuan dan laki-laki bergaya petani itu dianggap sebagai warisan komunis.
Kemudian pada 2001, Tugu Tani kembali dipermasalahkan sekelompok orang yang tergabung dalam Aliansi Anti Komunis (AAK). Mereka mengancam merobohkan patung peninggalan komunis tersebut.
Jauh ke belakang, tepatnya pada 1982, Tugu Tani juga pernah dipaparkan oleh Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo. Panglima RPKAD (kini Kopassus) saat penumpasan pemberontakan Gerakan 30 September 1965 itu menilai Tugu Tani sebagai pengejahwantahan komunis.
Mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menilai tak ada petani di Indonesia yang mempunyai gaya seperti petani di tugu tersebut yang angkuh dan memegang senjata. Petani model seperti itu dianggap sebagai petani komunis.
Bahkan, Sarwo Edhie yang pada saat itu menjabat sebagai Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri meminta Gubernur DKI Jakarta Suprapto kala itu untuk meratakannya ke tanah.
Dia meminta Tugu Tani dirobohkan karena tak ingin Indonesia terus memasang tugu yang merepresentasikan Barisan Tani Indonesia (BTI/organisasi yang berafiliasi dengan PKI pada 1965) tersebut.
Besok, Jumat (29/9), Tugu Tani kembali dipermasalahkan. Monumen yang disebut oleh mantan Wakil Presiden RI Adam Malik sebagai simbol perjuangan pembebasan Irian Barat (kini Papua) itu menjadi lokasi aksi 299.
Ada tiga agenda Apel Akbar yang digelar mulai pukul 13.30 WIB ini. Pertama, mimbar bebas orasi perlawanan terhadap komunis dari berbagai perwakilan Ormas/BEM/Masyarakat/Ulama, dan mahasiswa. Kedua, deklarasi FUIB Tolak Komunisme di NKRI. Ketiga, nonton bareng film dokumenter G-30S/PKI.
Tak Relevan dengan Komunis
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIP), Asvi Warman Adam menjelaskan, Tugu Tani tak terkait dengan ideologi komunis. Menurut Asvi, salah besar ketika hari ini masih ada orang yang menuding Tugu Tani sebagai simbol komunisme yang tersisa di Indonesia.
"Tidak relevan. Karena tugu itu tidak dibangun sesudah peristiwa G-30S. Tugu Tani itu dibangun jauh sebelum G-30S," ujar Asvi kepada CNNIndonesia.com.
Sejarawan mengatakan patung Tugu Tani bukan simbol komunisme melainkan pembebasan Irian Barat. (Detikcom/Ari Saputra) |
"Monumen Pembebasan Irian Barat sudah dibangun di Lapangan Banteng, tapi Bung Karno merasa belum cukup," ujar dia.
Lihat juga:Ketua MUI Imbau Tak Ada Aksi 299 |
Jadilah Sukarno meminta mantan Wakil Presiden Adam Malik yang saat itu menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet (kini Rusia) agar mencarikan pematung setempat yang bisa membuat patung berkaitan dengan perjuangan Pembebasan Irian Barat.
"Adam Malik waktu jadi Dubes tahun 1960 mengatakan Bung Karno datang ke Moskow meminta dan menanyakan, dia minta Adam Malik mencarikan pematung yang terkenal. Bung Karno ingin memesan patung yang berhubungan dengan pembebasan Irian Barat," ucap Asvi.
Karena itu, lanjut Asvi, ide pembuatan Tugu Tani itu berasal dari Sukarno. Idenya bercerita tentang perjuangan rakyat yang membantu militer dalam pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Temanya, seorang ibu merelakan kepergian anaknya yang seorang petani untuk berperang dalam pembebasan Irian Barat.
"Tema idenya bercerita tentang seorang ibu yang melepas anaknya yang mau pergi perang. Itu simbol petani, itu simbol rakyat yang mendukung perjuangan militer membebaskan Irian Barat, bukan tentara komunise," ucapnya.
Karena itu, Asvi menilai, aksi 299 yang salah satunya berlokasi di Tugu Tani menjadi tidak 'nyambung' antara konteks sejarah dan tema aksi yang bertujuan mengingatkan kembali bahaya komunisme.
"Jadi tidak masuk akal, karena konteksnya Tugu Tani itu simbol perjuangan Pembebasan Irian Barat, bukan komunis," ujar Asvi.
Sejarawan mengatakan patung Tugu Tani bukan simbol komunisme melainkan pembebasan Irian Barat. (Detikcom/Ari Saputra)