Aliansi Dosen Sebut Djaali Beri Ruang Plagiarisme di UNJ

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 19:34 WIB
Aliansi Dosen Sebut Djaali Beri Ruang Plagiarisme di UNJ Aliansi Dosen Bersatu menilai plagiarisme di UNJ terjadi secara sistemik karena didukung institusi akademik di bawah kepemimpinan Djaali saat menjabat rektor. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aliansi Dosen Bersatu untuk Perubahan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menilai Djaali memberikan ruang terhadap praktik plagiarisme di kampus saat menjabat sebagai rektor.

Salah satu perwakilan dosen, Robertus Robet menjelaskan tiga jenis plagiarisme. Pertama, plagiarisme yang terjadi karena faktor ketidaksengajaan pelaku. Menurut Robet, pelaku plagiarisme tahap ini belum memahami bagaimana menulis karya ilmiah. Beberapa kaidah penulisan pun dilanggar.

Kedua, plagiarisme dilakukan secara sengaja. Kasus ini dilakukan oknum yang sebetulnya memahami kaidah penulisan karya ilmiah namun melanggar ketentuan yang ada. Menurut Robet, plagiarisme tahap ini adalah kejahatan akademik kategori terberat.



Namun praktik plagiarisme yang terjadi di UNJ, kata Robet, tidak berada pada kedua tahap itu. Menurut dia, plagiarisme di UNJ berada pada tahap yang jauh lebih pelik.

"Kami biasa menyebutnya plagiarisme sistemik," kata Robet saat di temui di kampusnya, Kamis (28/9).

Dosen Jurusan Sosiologi itu menilai plagiarisme di UNJ terjadi secara sistemik karena didukung institusi akademik, dalam hal ini di bawah kepemimpinan Djaali. 

"Plagiarisme sistemik itu tidak diinisiasi oleh pelaku tapi diberi ruang oleh institusi oleh kampus," kata Robet.

Robet menyimpulkan hal itu karena Djaali sempat mengeluarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 1278 A yang seolah mendukung praktik plagiarisme.

Surat itu dikeluarkan pada November 2016, dua bulan setelah Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kemenristekdikti menginvestigasi indikasi pelanggaran di UNJ.

"Dalam SK bernomor 1278 A ini, disebutkan bahwa tindakan plagiat boleh dilakukan sebanyak 50 persen untuk kalimat karya ilmiah S1. Sementara untuk S2 dan S3 40 persen, ini adalah bentuk perlindungan terhadap plagiarisme," kata Robet.

Robet mengatakan, banyak pihak yang dirugikan ketika Djaali diduga membiarkan praktik plagiarisme di program pascasarjana UNJ. Dia berpendapat, lazim jika mahasiswa pascasarjana merasa tertipu selama menempuh pendidikan di UNJ.

"Mereka yang sungguh-sungguh menempuh pendidikan menjadi rusak reputasinya," kata Robet.

Aliansi Dosen Sebut Djaali Beri Ruang Plagiarisme di UNJDjaali telah diberhentikan sementara dari jabatan rektor UNJ oleh Menristekdikti Muhammad Nasir. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Dia pun meminta Pelaksana Harian Rektor UNJ Intan Ahmad untuk segera mengaudit proses akademik yang berjalan selama ini di program pascasarjana. Menurut Robet, hal itu perlu dilakukan agar mahasiswa dan alumnus yang melakukan plagiarisme dapat terdeteksi.

Jika ada lagi yang terbukti melakukan plagiarisme, lanjut Robet, maka Intan harus mencabut gelar akademik mereka.

"Mereka yang menjalankan pendidikan dengan baik di UNJ harus dijamin nama baiknya," kata Robet.

Mengusut Dugaan Nepotisme

Di samping masalah plagiarisme, Aliansi Dosen juga meminta Intan Ahmad mengusut dugaan kasus nepotisme yang terjadi di UNJ. Robertus Robet mengatakan, saat masih menjabat sebagai rektor, Djaali kerap mengangkat familinya mengisi jabatan strategis di UNJ.

Salah satunya, kata Robet, anak Djaali menjabat sebagai sekretaris rektor. Ada pula kerabat Djaali yang diangkat menjadi pemimpin salah satu lembaga kajian di UNJ.

"Terus, ada lagi anak Prof Djaali yang jadi dosen di Fakultas Ilmu Olahraga. Jadi dosen itu kan syaratnya harus tamat S2. Tamatan S1 kok jadi dosen?" kata Robet.

Sebelumnya, Menristekdikti Muhammad Nasir memberhentikan sementara Djaali dari jabatannya sebagai rektor UNJ pada Selasa lalu (26/9). Keputusan itu diambil karena Djaali diduga melakukan sejumlah pelanggaran, salah satunya membiarkan praktik plagiarisme di program pascasarjana UNJ.

Nasir yakin apa yang ditemukan Tim EKA dan Tim Independen sudah cukup menjadi landasan keputusan untuk memberhentikan Djaali dari jabatan rektor UNJ.


BACA JUGA