Pengelola Kerinci: Konversi Lahan Taman Nasional Meningkat

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 05:03 WIB
Pengelola Kerinci: Konversi Lahan Taman Nasional Meningkat Pengelola taman nasional Kerinci-Seblat menilai saat ini seperti kehilangan komunikasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga kawasan konservasi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengelola kawasan gunung Kerinci, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menyatakan konversi atau perubahan fungsi lahan dari hutan konservasi semakin meningkat.

"Kebutuhan akan lahan terus meningkat yang imbasnya beberapa tahun terakhir TNKS tertekan," kata Kepala Tata Usaha Balai Besar TNKS Agusman di Sungai Penuh, Jambi, Kamis (5/10) seperti dikutip dari Antara.

Agusman menerangkan saat ini pihak TNKS seperti kehilangan komunikasi dengan pemerintah daerah untuk menjaga hutan konservasi di kawasan gunung api tertinggi di Indonesia tersebut.


Terkait tingginya tekanan terhadap hutan konservasi, kata Agus, karena banyak yang menganggap TNKS tidak produktif dan sangat bagus untuk dijadikan lahan pertanian serta perkebunan.

Padahal, sambungnya, TNKS sebagai kawasan konservasi memiliki fungsi penting dalam ekosistem.

Perburuan Hewan Liar di Kawasan TNKS

Dan, tantangan lain dari TNKS adalah maraknya perburuan atas hewan liar di sana. Agusman mengatakan hingga saat ini petugas TNKS masih sering menemukan jerat dalam kegiatan operasi sapu jerat.

Agusman mengatakan pihaknya membutuhkan mitra untuk menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai peran TNKS untuk kehidupan. Dia mengakui, saat ini TNKS keterbatasan waktu, personel dan orang yang bisa menyampaikan penyelamatan kawasan taman nasional yang puncak tertingginya mencapai 3805 mdpl tersebut.

Hal itu pun diamini pakar lingkungan dari Universitas Andalas Wilson Nofarino. Di tempat yang sama Wilson mengatakan peran semua sektor dibutuhkan untuk menjaga hutan dan ekosistem yang ada didalamnya.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan polisi hutan yang jumlahnya tidak sebanding dengan luas hutan yang ada sehingga butuh bantuan dari semua pihak," ujar Wilson.

Pengelola Kerinci: Konversi Lahan Taman Nasional MeningkatHarimau Sumatra yang berada di habitatnya di Sumatra Barat. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Salah satu yang disorot Wilson adalah dugaan merosotnya jumlah populasi Harimau Sumatra di TNKS. Data Program Pelestarian Harimau Sumatra TNKS saat ini di dalam kawasan tersebut diprediksi hanya tersisa sekitar 160-167 ekor. Survei dilakukan berdasarkan pada temuan jejak, kotoran dan cakaran yang ditemukan.

"Harimau Sumatra menjadi kunci pendukung ekosistem sehingga keberlangsungan populasinya harus dijaga. Ini menjadi tanggung jawab bersama," kata Wilson dalam pelatihan komunikasi dan advokasi generasi pelindung harimau Sumatra di Sungai Penuh.

Selain perburuan liar, Wilson mengatakan penyebab menipisnya populasi harimau Sumatra adalah habitat yang hilang akibat perambahan hutan secara liar.