Analisis

Anies-Sandi dan Elektabilitas Prabowo

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Minggu, 15/10/2017 05:42 WIB
Anies-Sandi dan Elektabilitas Prabowo Kiprah Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dinilai tidak akan memengaruhi elektabilitas Ketua Umum Partai pengusungnya, Gerindra. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di hadapan puluhan ribu pendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Lapangan Banteng, 5 Februari 2017 silam, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengajak pendukungnya untuk memenangkan pasangan yang diusung Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Ketika itu, Prabowo mengatakan, "Saudara-saudara, kalau kalian ingin saya jadi presiden di 2019, kalian harus memenangkan Anies-Sandi menjadi gubernur dan wakil gubernur. Kalian harus kerja keras."

Anies dan Sandiaga menang dalam Pilgub DKI. Keduanya akan dilantik Presiden RI Joko Widodo sebagai pemimpin baru Ibu Kota di Istana Kepresidenan, Jakarta Senin, 16 Oktober 2017.


Namun, kini pertanyaannya, apakah setelah Anies-Sandi menang, Prabowo akan mudah menjadi presiden?

Menurut Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan, momentum Anies-Sandi menjadi penguasa DKI Jakarta belum tentu bisa meningkatkan elektabilitas Prabowo untuk meringankan langkahnya ke Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Anies-Sandi dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI sama sekali tak ada hubungannya dengan menaikan elektabilitas Prabowo,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.


Terlebih, hasil survei berbagai lembaga survei belakangan ini menunjukan tren penurunan elektabilitas Prabowo.

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia menempatkan elektabilitas Prabowo 11,5 persen, jauh di belakang Jokowi yang meraih 34,2 persen.

Sementara survei CSIS menempatkan elektabilitas Jokowi mencapai 51 persen sementara Prabowo Subianto
hanya 26 persen.

Rafif menjelaskan, elektabilitas merupakan satu-satunya daya tawar bagi seseorang yang ingin ikut dalam kontestasi politik.

Peningkatan elektabilitas dapat diwujudkan jika seorang politisi dengan cerdas mengelola pemasaran dan citra politik yang baik di hadapan masyarakat.

Alumnus Uppsala University Swedia itu, mengatakan jika masyarakat puas terhadap kinerja dan kebijakan politik yang dilakukan oleh politisi maka bisa dipastikan elektabilitasnya turut naik pula.

Rafif mencontohkan, Jokowi mampu mencitrakan diri sebagai pembaharu ketika menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

Saat Pemilihan Presiden tahun 2014, elektabilitas Jokowi lebih tinggi bahkan bisa mengalahkan Prabowo yang sebelumnya menjadi pengusungnya di Pilkada DKI Jakarta 2012 berpasangan dengan Ahok.

"Urusan elektabilitas ditentukan bagaimana politisi tersebut mem-branding dirinya sendiri tergantung imagenya. Prabowo tak ada perubahan, masih lekat citranya dengan dosa masa lalunya sampai sekarang," tambah Rafif.

Anies Menonjol

Di sisi lain, Rafif berpendapat masyarakat DKI yang memilih pasangan Anies-Sandi justru melihat faktor figur Anies yang lebih kuat dibandingkan Prabowo sebagai pengusungnya.

Anies dinilai mampu membangun citra yang lebih humanis dibandingkan Prabowo maupun pesaingnya saat itu.

"Jadi menangnya Anies itu dia bawa diri sendirinya saja, Prabowo tak berperan di sini. Prabowo itu orang sendiri, Anies itu orang sendiri, kecuali Anies menjadi bagian dari Prabowo, tapi dia di sini bukan orangnya Prabowo,” ujarnya.

Rafif justru menilai sebaliknya, Anies Baswedan justru diprediksi bisa melejit dibandingkan Prabowo jika mampu mengelola citra baik dan menunjukan kinerja yang memuaskan bagi masyarakat DKI Jakarta ke depannya.

Justru Anies Baswedan dinilai bisa bersaing di Pilpres 2019 mendatang dibandingkan Prabowo jika mampu memberikan hal tersebut.

"Elektabilitas tak berpengaruh pada siapa elit yang mengusung politisi tersebut di Pilkada, persoalan klaimnya susah, yang kerja Anies-Sandi, harusnya Anies-Sandi naik elektabilitasnya, bukan malah elektabilitas Prabowo yang naik," tandasnya.