Kapolri Tito Karnavian Dianugerahi Gelar Profesor Terorisme

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Kamis, 26/10/2017 10:00 WIB
Sebelum bergelar profesor, Tito pada 2013 pernah mempertahankan disertasinya tentang insurgensi islamis di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS). Selain mendapat gelar profesor, Tito Karnavian juga dikukuhkan sebagai guru besar untuk studi strategis kajian kontra terorisme. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian dianugerahi gelar profesor sekaligus dikukuhkan sebagai Guru Besar untuk studi strategis kajian kontra terorisme oleh Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Acara pengukuhan dilakukan dalam sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Gubernur PTIK yang juga selaku Ketua PTIK Inspektur Jenderal Remigius Sigid Tri Harjanto. Sementara, pernyataan pengukuhan dilakukan oleh Irjen Iza Fadri, selaku perwakilan guru besar pada senat akademik, di Auditorium PTIK, Jakarta Selaran, Kamis (26/10).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto mengatakan, pengukuhan ini sekaligus menambah daftar Guru Besar PTIK.



Pengukuhan Tito juga diharapkan semakin membuat kepolisian menjadi ilmu terbuka yang mampu memberikan solusi bagi kepentingan keilmuan maupun kepentingan praktis dalam kaitan dengan tugas-tugas kepolisian.

“Profesor Tito Karnavian dikukuhkan sebagai guru besar untuk studi strategis kajian kontra terorisme, diharapkan pemikiran-pemikiran beliau nanti dapat diaplikasikan bagi kepentingan bangsa Negara Indonesia, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme," kata Rikwanto di PTIK, di Auditorium PTIK, Jakarta Selaran, Kamis (26/10).

Keputusan Tito sebagai Guru Besar telah ditandatangani oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam Surat Keputusan Nomor 98876/A2.3/KP/2017 tanggal 19 Oktober 2017.

Pengukuhan gelar kepada Tito dihadiri sejumlah pejabat utama Polri dan kepala satuan kepolisian wilayah antara lain Wakapolri Komjen Syafruddin, Kalemdiklat Polri Komjen Unggung Cahyono, Irwasum Polri Komjen Putut Eko Bayuseno, Kabaharkam Polri Komjen Moechgiyarto, dan Kabareskrim Komjen Ari Dono.

Para menteri Kabinet Kerja, pejabat negara, hingga politikus juga hadir di lokasi, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Jaksa Agung HM Prasetyo, Ketua DPR Setya Novanto, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

Tito lahir di Palembang pada tanggal 26 Oktober 1964. Setelah tamat SMA di Palembang, ia diterima di Akademi Kepolisian dan lulus tahun 1987 sebagai penerima Bintang Adhi Makayasa.


Penugasan pertama Tito di Polda Metro Jaya sebagai perwira reserse. Tahun 1992 mendapat beasiswa dari The British Council untuk program Master in Police Studies.

Sistem pendidikan di Inggris yang tidak mengenal SI seperti di Indonesia memungkinkannya untuk mengikuti program S2 di University of Exeter, Inggris dan lulus dengan gelar MA pada 1993.

Tito banyak bertugas di jajaran reserse Polda Metro Jaya dan Sulawesi Selatan, serta Kapolres di Serang, Banten. Pada tahun 2005-2007 ia memimpin operasi kontra terorisme di Poso Sulawesi Tengah.

Pengalaman di Poso membuahkan buku "Indonesian Top Secret" terbitan Gramedia yang ditulis Tito dan rekan-rekannya.

Disertasi Terorisme

Tertarik dengan duniaterorisme dan insurgensi, Tito yang pada 2013 mendapat beasiswa doktoral (PhD) bidang Strategic Studies di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) Singapura, menulis disertasi tentang Insurgensi Islamis dengan studi kasus gerakan al Jamaah al Islamiyyah.


April 2013, Tito mempertahankan disertasinya dan memperoleh gelar PhD dengan penghargaan 2nd Class Upper (setingkat Magna Cum Laude dengan GPA 4.25) pada 8 Mei 2013.

Sejumlah jabatan yang pernah dipangku Tito di Polri, antara lain Kepala Detasemen Khusus 88 AntiTeror, Deputi Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kapolda Papua, Asisten Kapolri bidang Perencanaan dan Anggaran, Kapolda Metro Jaya dan Kepala BNPT.