Wajah Baru Bantar Gebang Sepeninggal Ahok

Ramadhan Rizki Saputra , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 07:54 WIB
Wajah Baru Bantar Gebang Sepeninggal Ahok Pemandangan di sepanjang jalan di kawasan TPST Bantar Gebang yang kini hijau dan ditumbuhi tanaman dan pepohonan. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pohon-pohon tanjung dan trembesi serta warna-warni tanaman hias berjejer rapi di pinggir jalan setelah pintu gerbang utama. Beberapa petugas kebersihan tampak membersihkan sampah sehingga nyaris tak satu pun sampah tercecer di jalan yang setiap hari dilalui truk-truk besar itu.

Tempat asri, rimbun, dan bersih itu bukan sebuah taman kota, melainkan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang terletak di Bekasi, Jawa Barat.

Perubahan drastis memang terjadi di TPST Bantargebang sejak pengelolaannya diambil alih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2016 lalu. Bantargebang yang dulunya lekat dengan kesan negatif seperti kumuh dan gersang, perlahan menjadi tempat yang terkelola dengan baik.

Di beberapa titik, terlihat petugas harian lepas (PHL) TPST Bantar Gebang sedang membuat dan mengelola ruang terbuka hijau. Beragam jenis tumbuhan dan sayur-sayuran ditanam seperti  cabai, terong, dan bibit pohon mangga.


Para petugas mengaku mendapat arahan dari pimpinan untuk menanam berbagai tumbuhan sebagai upaya penghijauan di sekitar TPST Bantar Gebang.

"Iya buat penghijauan, banyak juga di berbagai titik ditanami" ujar salah satu petugas saat CNNIndonesia.com mengunjungi Bantargebang pada Senin (13/10) lalu.

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga berusaha mengurangi bau menyengat akibat tumpukan sampah.

Jika sebelumnya bau menyengat dapat dicium dalam radius lebih satu kilometer dari zona tumpukan sampah, kini radius itu perlahan berkurang. Di area pintu gerbang utama, bau sampah bahkan tak terlalu menyengat. 

Upaya mengurangi radius bau sampah itu dilakukan dengan cara memasang tanah merah (cover soil) yang ditutup oleh geomembran berwarna hitam pada tumpukan sampah. 

Menurut PHL TPST Bantargebang Roy Sumbing, pemasangan itu selain mengurangi bau juga untuk mengubah gas metan dalam sampah menjadi pembangkit listrik.

Wajah Baru Bantargebang Sepeninggal Gubernur AhokBantargebang sebelum dikelola Pemprov DKI Jakarta, gersang dan kumuh. (CNN Indonesia/Eky Wahyudi)
Upaya mengubah Bantargebang juga dilakukan dengan membenahi manajemen sampah dan memperbarui infrastruktur.

Di zona pembuangan sampah, tumpukan sampah yang biasanya tidak beraturan kini dibentuk rapi dan terstruktur seperti bentuk kombinasi piramida dan terasering.

Roy berkata, tumpukan sampah dibentuk sedemikan rupa untuk menghindari longsor yang bisa membahayakan pekerja di sekitar tumpukan sampah.

"Iya sehari aja 7.000 ton yang masuk, jadi biar rapi dan mencegah longsor, makanya dibuat seperti itu," ujarnya. 


Pemprov DKI juga melakukan pemadatan sampah untuk menyiasati tingginya volume sampah sekaligus mencegah longsor.

Dari segi infrastruktur, Pemprov DKI Jakarta telah menambahkan alat berat sebanyak 12 buah sehingga total alat berat yang dimiliki TPST Bantar Gebang berjumlah 65 unit dengan rincan 34 unit eksavator, 14 uni buldozer, dan 5 unit bomag.

Wajah Baru Bantargebang Sepeninggal Gubernur AhokJalan setelah melewati pintu gerbang utama TPST Bantargebang kini terlihat teduh. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Penambahan alat berat ini berimbas pada manajemen sampah yang lebih efisien. Antrean truk saat memasuki titik pembuangan kini tak sepanjang sebelumnya.

"Dulu mengular panjang karena alat beratnya sedikit untuk unload sampah di truk," kata Roy.

Selain antrean yang lebih pendek, truk-truk juga semakin cepat mengeluarkan sampah. Perhitungan CNNIndonesia.com, masing-masing truk-truk hanya membutuhkan waktu tak sampai 5 menit untuk mengeluarkan sampah yang mereka bawa.

Ahok Ambil Alih Bantargebang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji menceritakan proses pengambilalihan pengelolaan TPST Bantargebang.

Isnawa mengungkapkan pengambilalihan dilakukan pada 2016 setelah pengelola sebelumnya, PT Godang Tua Jaya (GTJ), dinilai wanprestasi berdasarkan audit sebuah lembaga auditor independen.


Hasil audit itu melengkapi audit dari BPK yang menemukan dugaan kerugian negara di bawah pengelolaan PT GTJ.

Menurut Isnawa, pengambilalihan Bantargebang sebenarnya sudah direncanakan Ahok sebelum 2016. Akan tetapi beberapa kepala dinas yang ditunjuk Ahok untuk mengambil alih Bantargebang saat itu terlalu lama mengambil keputusan.

Wajah Baru Bantargebang Sepeninggal Gubernur AhokFoto: CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra
Ahok akhirnya meminta Isnawa mengambil alih pengelolaan Bantargebang. Di tangannya, proses negosiasi dengan PT GTJ berlangsung lancar sehingga dapat dengan cepat diambil alih oleh Pemprov DKI.

"Jadi saya temui, saya ngobrol baik-baik. Masalah sampah ini kalau ribut akan jadi masalah nasonal, kita minimalisir jangan sampai ada keributan. Banyak orang surprise kita bisa menyelesaikan tanpa ribet," tutur Isnawa.

Berakhirnya kepemimpinan Ahok di Jakarta tak lantas menghentikan upaya Isnawa memoles wajah Bantargebang. Ia mengatakan, tanpa Ahok Pemprov DKI akan terus membenahi Bantargebang baik secara internal maupun eksternal.


Dari segi internal, perbaikan dilakukan dengan terus melakukan penghijauan, merapikan titik buang, memperbaiki proses daur ulang.

Sementara perbaikan eksternal dilakukan dengan meningkatkan kompensasi kepada masyarakat sekitar dalam bentuk 'uang bau'.

"Ada juga uang bantuan buat (Pemkot) Bekasi kayak bikin fly over, pelebaran jalan, perbaikan masjid, sarana ibadah kesehatan itu dipenuhi," ujarnya. (wis)