Apalagi Airlangga dinilai banyak pihak menjadi figur yang pas untuk mengisi ketum menggantikan Setya Novanto yang tersandung kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.
Menurut Agus, Airlangga merupakan sosok penyelamat Golkar yang saat ini mengalami keterpurukan akibat beragam masalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menuturkan, eksistensi Golkar sebagai partai besar telah hilang sejak dipimpin Aburizal Bakrie dan Setnov. Di masa kepemimpinan dua sosok itu, Golkar seolah meniadakan filosofinya, yakni 'Suara Golkar, Suara Rakyat'.
"Platform yang dibuat oleh Golkar di masa lalu menyalahi logika politik sesungguhnya, diputarbalikan sedemikian rupa, sehingga Partai Golkar ditinggal konstituennya," ujarnya.
Nama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kian santer disebut sebagai kandidat kuat Ketua Umum Partai Golkar pengganti Setya Novanto yang kini terjerat kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi bahkan mengklaim pencalonan Airlangga sebagai Ketum Golkar sudah direstui oleh Presiden Joko Widodo.
Airlangga diketahui pernah ikut dalam pemilihan ketum pada Munaslub Golkar di Bali tahun 2016. Namun, kala itu dia kalah dari Setnov. (osc/djm)