LIPUTAN KHUSUS

Musik Senjata dan Lirik Peluru Perlawanan Punk

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 09:50 WIB
Musik Senjata dan Lirik Peluru Perlawanan Punk Band punk Marjinal saat manggung di Jakarta. Lirik lagu Marjinal banyak yang menyuarakan kritik sosial. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Punk dan musik tak bisa dilepaskan. Musik jadi salah satu penanda awal kemunculan kelompok ini. Melalui musik pula Punk masuk ke Indonesia.

Musik diakui sebagai salah satu senjata oleh kaum punk untuk menyuarakan ide-ide sekaligus mengumandangkan perlawanan pada ketidakadilan.

"Dari awal memang teman-teman punk menggunakan media musik untuk menyampaikan pesan, menyampaikan ide, menjadikan proses belajar sama-sama tentang kondisi negeri," kata Bobby Firman Adam, personel band punk Marjinal kepada CNNIndonesia.com.

Bobby mengatakan, bagi Marjinal, semua hal di sekitar bisa menjadi inspirasi pembuatan lagu. Terutama ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai punk. Misalnya masalah kesehatan, pendidikan, diskriminasi, dan kebobrokan sistem pemerintahan.

Tema-tema seperti itu yang sering dijadikan Marjinal sebagai 'peluru'. Contohnya lagu Hukum Rimba. Lagu itu merupakan kritik Marjinal terhadap carut marut penegakkan hukum di Indonesia yang semestinya jadi panglima.
Musik dan Lirik Perlawanan Punk (EMBARGO)Personel Marjinal, Bobby Firman Adam menyebut musik adalah senjata punk dan lirik adalah pelurunya. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Lagu Hukum Rimba membicarakan tentang noktah hitam peradilan di Indonesia. Marjinal menggambarkan bagaimana hukum bisa dibeli oleh mereka-mereka yang punya kuasa dan uang. Sementara bagi mereka yang tak punya uang, siap-siap merasakan ketajamannya.

"Lagu Hukum Rimba. Cerita tentang di mana hukum bisa dibeli dan hukum bukan lagi menjadi satu pintu terakhir untuk menentukan keadilan atau siapa yang bersalah. Orang bersalah bisa membeli hukum agar lolos dari apa yang diperbuat," ujar Bobby.

Secara umum lagu-lagu yang dibawakan atau diciptakan Marjinal diakui Bobby banyak berisi kritikan. Pemerintah dan ketidakadilan adalah sasaran tembaknya.

"Yang jelas kami kritik ketidakadilan apapun bentuknya. Kemudian kami kritik pemerintah, karena itu biangnya. Hancurnya negeri ini disebabkan sistem pemerintahan tidak pro kepentingan dan keinginan rakyat. Kekuasaan malah mengeksploitasi kepentingan umum," ujar Bobby.

Pemain bass dan ukulele Marjinal ini menilai, musik dan lagu beserta lirik yang diciptakan Marjinal efektif sebagai media kritik dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Setelah 20 tahun berkarier di belantika punk, Marjinal menurutnya akan terus konsisten menyuarakan kegelisahan mereka apapun itu permasalahan di depan lewat musik.
"Apapun itu permasalahannya, Marjinal akan terus konsisten. Gue pribadi sampai dicabut nyawa ini akan terus konsisten," kata Bobby.

Dalam kesempatan terpisah, musisi punk yang lain, Rama Aditya mengatakan, hampir semua band punk memang menyuarakan kritik dan perlawanan lewat lagu mereka.

Gitaris band The Sabotage ini mengatakan, pemerintah memang banyak jadi objek kritik. Selain itu isu-isu terkini juga jadi perhatian band punk dalam bermusik.

"Sebagian ada yang mengkiritk pemerintah, lalu ada isu-isu yang lagi hangat," kata pria yang kerap disapa Geboy ini.

Antara Underground dan Mainstrem

Marjinal menjadi salah satu band yang sejak berdiri pada 1997 konsisten berada di jalur underground. Jalur ini banyak sekali dipilih band-band punk untuk menyuarakan perlawanan mereka lewat musik.

Meski tak dipungkiri, jalur mainstream sangat dimungkinkan membuat band atau komunitas punk jadi lebih mapan dan terkenal. Namun Marjinal punya pandangan tersendiri terhadap underground dan mainstream ini.

Jika punk punya slogan do it yourself (DIY), maka Marjinal membuat moto sendiri dengan mengganti ‘yourself’ menjadi 'together' untuk menciptakan karya-karya mereka, termasuk untuk memproduksi musik.

Dengan do it together ini, Marjinal ingin melawan mainstream, salah satunya industri musik yang mayoritas membatasi tema-tema lagu pada persoalan cinta semata.

Untuk mengkritik itu, Marjinal juga pernah membuat lagu ‘Cinta Pembodohan’. Bobby mengatakan, lagu itu dibuat karena kemuakkan pada kondisi industri dalam negeri yang kerap membatasi band-band dalam berkarya.

Marjinal muak terhadap perusahaan rekaman atau major label yang membatasi kreativitas musisi dalam penciptaaan lagu demi pasar. Salah satunya mewajibkan band-band itu menciptakan lagu-lagu cinta.

“Muak sama industri musik yang selalu mengangkat band atau pemusik yang dibatasi karyanya, ‘Lo bikin lagu-lagu cinta saja dah. Jangan bikin lagu macam-macam’, Karena itu yang laku dijual," ujar Bobby.
Cinta Pembodohan dan Lirik Musik Perlawanan PunkMusik jadi senjata punk untuk mengkritisi ketidakadilan. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)

Meski demikian, Marjinal tak mempermasalahkan band-band punk yang memilih mainstream dan menjadi komersil. Bagi Marjinal, selama band punk itu konsisten menerima konsekuensinya, selama band itu bebas berkarya tanpa batas atau turut berbagi dan peduli dengan sesama, maka itu bukan masalah.

Bagi Marjinal, persoalan underground atau mainstream, tak lebih dari sekadar pilihan semata. Semuanya bebas dan berhak menentukan pilihannya secara sadar.

Tapi yang terpenting, mereka punya kepekaan akan gejala-gejala sosial-politik yang tidak berpihak pada masyarakat. Karena punk menurut Bobby sebuah kemerdekaan, dalam hal ini kebebasan berbicara, kebebasan bertindak, sampai pada kebebasan menentukan pilihan namun harus disertai dengan tanggung jawab.

"Mau masuk mainstream, terus terkenal, masuk tivi, enggak masalah. Saat dia sadar mau berbagi sama yang lain, kenapa enggak? Oke juga kok. Itu masalah pilihan saja," ujar dia.
"Pada saat punya kesadaran dia sudah sukses besar misalnya, dia mau berbagi buat yang lain, kan keren. Dibanding dengan politik, ngomporin doang tapi enggak melakukan apa-apa, buat apa juga?” ujar Bobby.

Soal jalur mainstrem atau underground, Geboy menyatakan tak perlu terlalu dipermasalahkan. Menurutnya, jalur underground atau melalui major label adalah pilihan masing-masing band punk.

Namun ia mengingatkan, jika merasa dirinya adalah seorang punk, maka etika kemandirian atau do it yourself harus tetap dipegang.

"Lo jadi punk maka harus bisa survive sendiri. Lo harus bisa mandiri. Kita harus berjalan sendiri, enggak bergantung. Lo pilih jalan mainstream itu silakan, kita pun punya jalan sendiri," kata Geboy. (sur)