Hitungan Tepat Gerindra Usung Sudrajat di Pilgub Jawa Barat

Abi Sarwanto & Ramadhan Rizki , CNN Indonesia | Minggu, 10/12/2017 15:14 WIB
Hitungan Tepat Gerindra Usung Sudrajat di Pilgub Jawa Barat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengumumkan bakal calon gubernur yang diusung di Pilkada Jawa Barat 2018, Mayjend Purnawirawan TNI Sudrajat di Hambalang, Sabtu (9/12). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Gerindra menginisiasi poros baru pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 dengan mengusung Mayor Jenderal (Purn) Sudrajat sebagai bakal calon gubernur pada Pilkada Jawa Barat 2018.

Pengamat politik Pusat Studi Politik Universitas Padjadjaran Muradi berpendapat, pencalonan Sudrajat di Pilgub Jawa Barat dinilai sudah tepat secara hitungan politik karena posisi tawar politik Gerindra ke koalisi Deddy Mizwar-Ahmad Saikhu telah menemui jalan buntu.

Jika Gerindra tetap mengikuti koalisi PKS, PAN dan Demokrat yang mengusung Deddy Mizwar-Ahmad Saikhu, justru akan menimbulkan kerugian politik bagi partai dengan logo Kepala Burung Garuda itu di Jawa Barat.

"Kalau ikut ke koalisi Demiz dan Saikhu, Gerindra akan rugi. Deddy dengan Saikhu akan lebih banyak ke Demokrat dan PKS ketimbang ke Gerindra-nya," ujar Muradi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kata Muradi, Gerindra yang telah memutuskan kadernya sendiri, untuk maju di Pilgub Jawa Barat dapat memancing PKS untuk keluar dari koalisi Deddy-Saikhu. PKS merupakan mitra tetap koalisi Gerindra dan keduanya mesra dari Pilpres 2014 hingga kembali berkoalisi di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

"Karena mereka tidak nyaman dengan posisi politik Deddy Mizwarnya, makanya mereka menyorongkan nama baru. Jadi mereka inginkan mengajak PKS tapi tanpa Deddy Mizwar, karena asumsinya nanti, Gerindra mengajukan nama Sudrajat disandingan dengan Saikhu," katanya.

Muradi mengatakan, Gerindra mengajak PKS berkoalisi kembali di Pilkada Jawa Barat tak hanya sebatas alasan historis, tapi karena partai yang diketuai oleh Sohibul Iman itu memiliki basis massa yang solid.

"PKS secara parpol itu memiliki basis massa yang lebih baik dibandingkan partai lain, lebih solid, disiplin dan lainnya," ujar Muradi.

Bagi Muradi, Gerindra juga membutuhkan koalisi besar untuk mensukseskan langkahnya memenagkan Pilkada Jawa Barat.

Diketahui Gerindra memiliki 11 kursi di Jawa Barat sehingga harus berkoalisi dengan partai lain agar memenuhi kuota 20 persen memajukan calon di Pilgub Jabar 2018.

"Makanya yang ada di pikiran Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Mulyadi ya mereka mengajak PKS dan PAN dulu karena butuh dukungan besar," ujarnya.

Pengamat politik Universitas Padjajaran Idil Akbar berpendapat, wajar bila Gerindra mengajak PKS dan PAN untuk berkoalisi kembali di Pilkada Jawa Barat tahun depan.

Secara emosional dan historis, koalisi tiga partai tersebut telah berlangsung sejak di Pilkada DKI Jakarta 2017 dan khusus bagi Gerindra dan PKS sudah terjalin sejak Pilpres 2014.

"Karena secara historis sejak 2014 lalu, Gerindra dan PKS membangun koalisi, dan perjalanannya, hanya Gerindra dan PKS lah yang masih tetap dalam posisi atau kutub penyeimbang pemerintah, mereka juga sama-sama memenangkan Pilkada DKI, secara historis ingin dibangun kembali oleh Gerindra di Pilkada Jawa Barat," ujar Idil saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Idil menilai, pencalonan Mayjen (Purn) Sudrajat oleh Gerindra disebabkan karena proses politik dan tawar menawar dengan PKS dan PAN untuk berkoalisi di Pilkada Jawa Barat terlalu lama.

Gerindra juga dinilai tak mampu menjalin komunikasi politik yang intens sejak lama dengan kedua parpol tersebut.

"Gerindra agak sedikit gamang dan plin-plan, karena jika ingin membangun koalisi itu harus ada komunikasi sejak lama dengan PKS di Jawa Barat, kali ini Gerindra tidak, tawar menawarnya terlalu panjang, komunikasinya juga terlalu panjang," ujarnya.

Hasilnya, kata Idil, putusnya komunikasi antara Gerindra dan PKS menyebabkan Gerindra membuka poros sendiri dengan mencalonkan Sudrajat. Sementara PKS dan PAN tetap mengusung Dedi Mizwar dan Ahmad Syaiqu di Pilkada Jawa Barat.

"Gerindra ada putus komunikasi di situ sehingga PKS menjalin komunikasi dengan PAN dan Demokrat, Gerindra ketinggalan. Saya kira itu logis jika Gerindra dan PKS di Jawa barat tidak berkoalisi, politik kan dinamis," ujarnya.

Pendamping Sudrajat

Bakal calon gubernur Jawa Barat Sudrajat menyerahkan sepenuhnya nama bakal calon pendampingnya kepada partai koalisi di Pilkada Jawa Barat 2018.

"Sekarang saya belum dapat informasi yang banyak, tetapi yang saya yakini Partai Gerindra dengan PKS dan PAN sedang merumuskan siapa yang akan menjadi wagub," kata Sudrajat.

Menurutnya, calon ideal pendampingnya adalah yang satu visi dan misi dalam memimpin Jawa Barat. Dia pun tidak mempermasalahkan mengenai jenis kelamin pendampingnya.

"Saya tidak ada spesifikasi laki atau perempuan. Sepanjang itu diputuskan oleh koalisi siapa yang mendampingi saya maka dialah yang akan mendampingi saya," katanya.

Sementara itu, mengenai elektabilitasnya, Sudrajat mengaku tidak khawatir meski sudah lama tidak muncul di percaturan politik. Dalam waktu dekat dia berencana mencoba berkenalan kembali dengan daerah-daerah Jawa Barat yang dulu pernah mengenalnya.

"Bisa mengingat kembali di tahun 90-an, tahun 2000 awal saya cukup mengenal dan dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Mudah-mudahan rakyat Jawa Barat masih bisa ingat kembali bahwa saya adalah orang sunda, saya dari Sumedang," katanya.

(ugo/djm)