Perjuangan Isna Menyelamatkan Anaknya dari Ancaman Difteri

Dhio Faiz , CNN Indonesia | Senin, 11/12/2017 09:11 WIB
Perjuangan Isna Menyelamatkan Anaknya dari Ancaman Difteri Sebanyak 11 provinsi telah meningkatkan status wabah difteri menjadi kejadian luar biasa. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal).
Jakarta, CNN Indonesia -- Raut kelelahan terlihat di wajah Isna Umiyati (49) saat mendampingi anaknya, Ai (8) di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Suliyanti Saroso, Jakarta Utara. Ai adalah salah satu pasien difteri, penyakit yang disebabkan kuman corynebacterium diptheriae. 

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, pada Oktober hingga November 2017, ada 11 provinsi menaikkan status penyakit difteri ke level kejadian luar biasa (KLB) di antaranya Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. 

Ai sudah dirawat inap sejak Sabtu (2/12). Perasaan Isna juga tak lagi secemas sebelumnya mengingat kondisi Ai telah menunjukkan perkembangan positif. Namun Isna tak bisa melupakan proses panjang hingga anaknya bisa mendapatkan perawatan layak.

Isna bercerita, sebelum positif dinyatakan terjangkit difteri, Ai sempat mengalami batuk-pilek selama tiga hari di hari-hari menjelang pengujung November. Kemudian, pada 30 November, anaknya mengaku mengalami pusing. 

"Saya pikir pusing biasa,” ujar Isna saat ditemui CNNIndonesia.com akhir pekan lalu di lorong Mawar 2, area isolasi pasien difteri RSPI Suliyanti Saroso.

Isna tidak segera membawa Ai ke fasilitas kesehatan karena menganggapnya demam biasa. Ia memberi paracetamol untuk meredakan panas yang cukup tinggi, serta membuatkan ramuan tradisional, campuran kunyit dan daun selada kepada Ai.

Dia baru memutuskan membawa Ai ke Rumah Sakit Citama, Bogor, Jawa Barat, keesokan harinya setelah suhu tubuh anaknya tak kunjung menurun.

Saat diperiksa dokter, panas tubuh Ai mencapai 40 derajat celsius.

“Dokter curiga, ada putih-putih di tenggorokan, difteri,” Isna mengisahkan.

Usai diperiksa dokter pun menyarankan Ai mendapatkan perawatan di rumah sakit, namun Isna sempat menolak karena pertimbangan finansial.

Isna adalah orang tua tunggal. Suaminya meninggal dunia beberapa waktu lalu. Namun dokter menjelaskan Ai diduga terjangkit difteri.

Saat itu Isna belum memahami seberapa gawat penyakit tersebut. Tetapi ia akhirnya menyetujui Ai dirawat inap.

Pelayanan Buruk RSUD Pasar Minggu

RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jadi pilihan Isna setelah RS Citama Bogor tidak menyanggupi penanganan pasien difteri. Namun di RSUD Pasar Minggu itu Isna justru merasa kecewa. 
Perjuangan Isna Menyelamatkan Anaknya dari Ancaman DifteriSeorang balita menangis saat imunisasi difteri di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/12). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Ia mencontohkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kata Isna, anaknya dan para pasien lain tidak diberikan tempat tidur.

Pasien yang diperiksa hanya diminta duduk di bangku, tak peduli separah apapun kondisi pasien.

Kekecewaan lain dari Isna adalah sikap RSUD yang bersikukuh menyatakan Ai tidak menginap difteri.

Pihak RSUD lantas hanya merujuk Ai ke dokter anak. Padahal, menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan belum menyuruh.

Ai belum menjalani pemeriksaan Swab, pengusapan kerongkongan untuk mendeteksi difteri, di RSUD Pasar Minggu. Isna yang ditemani kakak laki-lakinya, akhirnya memutuskan membawa Ai pulang.

“Karena prediksi pertama difteri, saya kan deg-degan juga. Ini kan masalah nyawa,” ucap Isna dengan nada yang mulai memberat dan air mata yang siap mengucur deras.

Pada Sabtu (2/12), Isna rencananya membawa Ai ke dokter anak di RS Puri Cinere karena punya kenalan di sana. Tapi kenalan tersebut langsung menyuruh Isna membawa Ai ke RSPI Suliyanti Saroso untuk penanganan serius.

Tak buang waktu lama Isna langsung membawa anaknya ke RSPI Suliyanti Saroso.

Di sana, perjuangan Isna menemui titik terang. Ai langsung menjalani serangkaian pemeriksaan seperti rontgen, pengambilan sampel darah, dan Swab. Setelah itu, anaknya ditempatkan di salah satu kamar isolasi di lorong Mawar 2.

Alhamdulillah saya pakai BPJS semuanya gratis. Kemarin baru tahu pas tebus obat ke apotek, dibilang petugasnya enggak kena biaya,” ungkap Isna lega.

Isna sampai saat ini belum mengetahui dari mana Ai tertular difteri. Sebab, tidak ada pengidap difteri di lingkungan rumah dan sekolah Ai.

Ai juga jarang main keluar rumah, terutama di pekan ujian seperti minggu lalu. Namun Isna bersyukur setelah Ai diketahui tertular difteri, pihak Dinas Kesehatan setempat langsung berkunjung dan melakukan pencegahan di daerah rumahnya, di Citayam, Bogor.

Dinas Kesehatan, kata Isna, juga akan melakukan imunisasi untuk siswa kelas 1 dan 2 di SD Islam Nurul Fajar, tempat Ai bersekolah.
(wis/djm)