Pemprov DKI akan Gelontorkan Rp70 M untuk Vaksin Difteri

Dhio Faiz , CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 21:48 WIB
Pemprov DKI akan Gelontorkan Rp70 M untuk Vaksin Difteri Ilustrasi vaksin. (Thinkstock/Bdspn)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menggelontorkan Rp70 miliar untuk menyiapkan tambahan vaksin difteri. Keputusan ini diambil menyusul difteri di ibu kota negara RI tersebut sudah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

Termasuk DKI Jakarta, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan KLB Difteri di 11 provinsi.


Anies mengatakan, untuk menangani wabah difteri, Pemprov DKI Jakarta akan menyiapkan 2,9 juta vaksin yang ditujukan kepada anak-anak berusia 1 hingga 19 tahun.

Fokus terhadap anak diambil mengingat difteri menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, salah satunya anak-anak.

"Yang kita dapat dari Kemenkes 1,2 juta. Tapi untuk kebutuhan, kita tambah jadi 2,9 juta ya," kata Anies dalam jumpa pers di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (8/12).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan vaksinasi akan difokuskan pada Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kedua wilayah tersebut jadi titik penyebaran difteri terberat di Jakarta. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan di wilayah lain pun dilakukan vaksinasi.

"Kita semua berharap ini bisa tertangani dengan baik, jadi Pemprov DKI merencanakan untuk melakukan vaksinasi direncanakan masif. Jadi mulai Senin depan kita akan lakukan," ujarnya.


Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menyampaikan proses vaksinasi akan dijalankan dalam sebuah program bertajuk Outbreak Response Immunization (ORI).

ORI akan dilakukan di seluruh daerah di DKI Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu. Imunisasi akan dilakukan tiga tahap. Imunisasi pertama akan dilakukan pada Senin (11/12) mendatang. Lalu imunisasi lanjutan akan dilakukan pada Januari dan Mei 2018.

"Jadi memang perjalanannya banyak sekali. Perlu diingatkan pada masyarakat gejalanya seperti orang flu biasa, tapi disertai panas tidak terlalu tinggi, nyeri pada tenggorokan, disertai tampak tanda-tanda warna putih keabu-abuan di amandel kiri kanan," tutur Koesmedi.

Koesmedi menjamin pasien pengidap difetri tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengobatan. Ia mengimbau seluruh warga Jakarta untuk secepatnya memeriksakan kesehatan jika ditemukan ada gejala-gejala difteri.

"Secepatnya berobat ke Puskesmas karena ini semua gratis. Jadi jangan ditunda. Silakan langsung berobat daripada nanti jadi berat. Ringan pun datang saja biar diketahui apakah itu difteri apa bukan," ujar Koesmedi.

Pemprov DKI Akan Gelontorkan Rp70 M untuk Vaksin Difteri


Ia menjamin pasien pengidap difteri tak akan dibebani biaya sama sekali asal memiliki kartu BPJS. Bagi warga yang belum memiliki BPJS, Koesmedi mengatakan, akan dibuatkan BPJS oleh pihak Puskesmas. Yang terpenting adalah deteksi dan penanganan dini.

Ia juga mengajak warga Jakarta untuk sama-sama menjaga lingkungannya dari wabah difteri.

"Kalau kemudian menemukan orang memiliki gejala sama, belum diperiksa, maka dorong supaya diperiksa. Jangan dibiarkan. Kalau kita biarkan orang memiliki gejala difteri dan tetap berada di lingkungan itu, risikonya jadi meluas ke keluarga dan lingkungannya," ujar Anies.

Untuk memastikan janji ini berjalan sebagaimana mestinya, CNNIndonesia.com mengunjungi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara. Di sana bertemu dengan Isna Umiyati, orang tua pasien pengidap difteri berinisial AI.

Isna mengatakan putrinya yang berusia 8 itu dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso pada Sabtu (2/12).

"Enggak sama sekali. Kemarin saya ke kasir, enggak keluar uang sama sekali. Saya pakai BPJS kemarin," kata Isna. (kid/asa)