Gempa dan 'Puing-puing' Kengerian Warga Tasikmalaya

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Minggu, 17/12/2017 13:13 WIB
Gempa dan 'Puing-puing' Kengerian Warga Tasikmalaya Selain merobohkan rumah warga dan bangunan fasilitas umum, gempa meninggalkan perasaan takut dan khawatir bagi warga Kecamatan Karangnunggal dan Taruju. (CNN Indonesia/Tiara Sutari).
Tasikmalaya, CNN Indonesia -- Bencana gempa Tasikmalaya tampaknya masih menyisakan kengerian bagi sejumlah warga di Kecamatan Karangnunggal dan Taruju. Pasalnya, meski tak menelan korban jiwa, kerusakan yang diakibatkan guncangan pada Jumat (15/12) malam itu, memang tak bisa dianggap remeh.

Sejumlah rumah tinggal warga dan fasilitas umum di dua kecamatan itu mengalami kerusakan parah saat gempa tektonik berkekuatan 6,9 skala richter mengguncang beberapa daerah di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.

Kusnawan (45 tahun), salah satu warga yang mengalami kerusakan pada rumahnya mengaku kaget dan takut saat guncangan terjadi. Apalagi, salah satu anaknya yang berusia tujuh tahun terus menerus menangis acap kali ada gerakan secara tiba-tiba, meskipun gerakan tersebut bukan diakibatkan oleh gempa.


Ia menceritakan, dapur rumahnya ambruk. Selain itu, bagian depan rumah pun retak cukup parah. Padahal, ia mengklaim, rumah miliknya memiliki fondasi yang kokoh.

Saat gempa datang, Kusnawan bersama istri serta tiga orang anak-anaknya tengah berada di bagian depan rumah. Beruntung ketika dapur ambruk, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang tertimpa reruntuhan.

“Jadi, pas aya (ada) ini, langsung wae kaluar (keluar saja). Rewas (kaget). Si neng jadi menangis melulu. Dia ketakutan. Apalagi, di Tasikmalaya, gempa yang besar itu dua kali, Sabtu kemarin (16/12) juga masih ada gempa beberapa kali, tujuh kali kalau gak salah mah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/12).

Warga lainnya, Endah (56 tahun) mengalami hal serupa. Gempa yang terjadi dua kali, diikuti dengan beberapa kali gempa susulan telah merusak toko kelontong miliknya. Ditambah lagi, listrik padam hingga Minggu pagi (17/12).

“Warung itu rusak. Jadi, barang dagangan banyak yang tertimpa tembok. Ya sudah, saya teh enggak bisa jualan sekarang,” imbuhnya.

Hingga dua hari setelah bencana gempa, sebagian warga lainnya mengaku enggan tinggal di dalam rumah. Padahal, sebetulnya, gempa ini bukan pertama kalinya dirasakan warga Tasikmalaya. Tahun 2009 silam, gempa berkekuatan 7,3 SR juga mengguncang Tasikmalaya.

“Ya takut, takut roboh saja rumah, terus tertimpa. Jadi, tidur semalam saja kami di tengah rumah numpuk gitu dekat pintu. Nggak di kamar,” kata Endah.

Sementara, Kusnawan mengaku, tak menempati rumahnya lantaran kerusakannya cukup parah. Ia dan seluruh keluarganya mengungsi di rumah keluarga istrinya.

“Ya menumpang di mertua, takut juga kalau rumah ambruk, apalagi kemarin itu masih ada gempa kecil-kecil di sini,” pungkasnya. (bir)