Arief sebelumnya dijatuhi sanksi ringan berupa teguran lisan terkait isu lobi politik terhadap pencalonan kembali dirinya sebagai hakim konstitusi.
“Kami beri lagi kesempatan buat dia. Kalau (melakukan kesalahan) satu kali lagi akan ada majelis kehormatan yang menjatuhkan sanksi berat,” ujar Roestandi di Gedung MK Jakarta, Selasa (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum tersandung isu lobi di DPR, Arief juga pernah dijatuhi sanksi ringan pada 2016. Saat itu ia memberikan pesan tertulis yang diduga sebagai katabelece kepada mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Widyo Pramono.
Dengan demikian, selama menjabat sebagai Ketua MK, Arief sudah dua kali dijatuhi sanksi ringan.
Roestandi menuturkan, pihaknya sempat berbeda pendapat dengan anggota dewan etik lainnya yakni Salahuddin Wahid dan Bintan Saragih terkait penjatuhan sanksi bagi Arief. Saat rapat Dewan Etik, Roestandi mengusulkan agar Arief dijatuhi sanksi berat mengingat kapasitasnya sebagai Ketua MK.
“Ini pelanggaran ringan kalau dilakukan hakim biasa, tapi karena hakim ketua saya usulkan pelanggaran berat,” katanya.
Dewan Etik Mahkamah Konstitusi, Achmad Roestandi (kanan) dan Salahuddin Wahid memberikan keterangan terkait pencalonan Arief Hidayat sebagai Hakim Konstitusi. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Di sisi lain, dari pengakuan Arief dan pimpinan Komisi III DPR yang diminta keterangan, pertemuan di hotel hanya membahas penjadwalan uji kepatutan dan kelayakan Arief terkait pencalonannya kembali sebagai hakim konstitusi.
“Dia menyangkal ada transaksional (lobi politik) itu, hanya penjadwalan untuk fit and proper test. Sedangkan ketika saya tanya ke DPR tidak memberi keterangan dengan alasan hak imunitas,” kata Roestandi.
Sementara itu, Dewan Etik telah meminta keterangan pada LSM yang melapor perbuatan Arief dan sejumlah pimpinan Komisi III DPR yakni Trimedya Panjaitan, Arsul Sani, dan Desmon Mahesa.
Anggota dewan etik Salahuddin Wahid alias Gus Solah mengatakan, dari keterangan ketiga orang tersebut hanya Desmon yang menyebut ada lobi politik dari Arief agar terpilih kembali sebagai hakim konstitusi. Sementara dua orang sisanya membantah.
“Jadi kami berkesimpulan tidak ada bukti terjadi lobi yang dilakukan Arief,” ucapnya.
Dugaan pelanggaran etik itu dilaporkan sejumlah LSM ke Dewan Etik MK. Arief diduga melakukan lobi politik ke anggota DPR terkait pencalonannya kembali sebagai hakim konstitusi.
Arief Hidayat akhirnya kembali terpilih sebagai hakim konstitusi berdasarkan hasil uji kepatutan dan kelayakan oleh Komisi III DPR pada 6 Desember lalu. Namun Dewan etik MK menjatuhkan sanksi berupa teguran lisan kepada Arief. (pmg/gil)
