Melihat dari Dekat Rumah VOC Cimanggis

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Selasa, 23/01/2018 07:15 WIB
Melihat dari Dekat Rumah VOC Cimanggis Rumah Cimanggis belum masuk daftar cagar budaya meski dinilai punya nilai historis yang tinggi. Keberadaanya malah terancam terkait rencana pembangunan kampus internasional. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Reruntuhan rumah tua di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, kini tengah disorot. Sejarawan menilai bangunan yang akan digusur untuk pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia itu pantas jadi cagar budaya karena nilai historinya.

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut bangunan tersebut hanya sebuah rumah kuno yang dibangun oleh rezim korup Kongsi Dagang Belanda di Hindia Timur atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Akhir pekan kemarin, CNNIndonesia.com melihat langsung bangunan rumah Cimanggis tersebut. Tak mudah mencari lokasinya, kami harus melewati pintu belakang dari kompleks pemancar Radio Republik Indonesia, di mana bangunan itu berada.


Jika dilihat dari jauh, Rumah Cimanggis tidak terlalu terlihat. Tanaman rambat tumbuh secara liar menutupi bangunan tersebut.

Bahkan, atap bangunannya pun sudah roboh, sehingga hanya menyisakan atap di bagian depan dan belakang bangunan saja.

Meski banyak sisi bangunan yang mulai roboh, tiang atau pilar yang berada di sisi depan bangunan masih berdiri kokoh meski tak utuh seluruhnya.

Tiang atau pilar itupun menjadi salah satu bukti jika bangunan rumah cimanggis itu merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda.

Dari segala sisi, tampak cukup banyak pintu serta jendela-jendela yang juga menjadi ciri khas bangunan Belanda. Namun, pintu dan jendelanya juga hanya tinggal menyisakan rangka. Tampak beberapa ukiran kuno masih tersisa.
Melihat dari Dekat Rumah VOC CimanggisSalah satu sudut Rumah Cimanggis di Depok, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Bagian dalam bangunan juga dipenuhi tanaman liar. Bukan hanya di lantai bangunan sudah tak terlihat lagi, tanaman liar juga banyak yang menjalari tembok bangunan.

Tak hanya tanaman liar saja, tetapi bekas runtuhan bangunan yang jatuh juga cukup menyulitkan untuk bisa mengelilingi bagian dalam rumah tersebut.

Di bagian dalam bangunan, terdapat sejumlah sekat-sekat pembatas, yang menunjukkan pembagian sejumlah ruangan di bangunan tersebut.

Rumah Cimanggis memang pernah diberi sekat untuk dipakai semacam mess bagi 13 kepala keluarga karyawan RRI.

Sementara di bagian belakang, juga terdapat semacam teras atau serambi sama seperti di bagian depan bangunan. Serambi di bagian belakang pun terbilang cukup luas.

Bangunan Rumah Cimanggis sangat tidak terawat. Itu terlihat dari runtuhnya atap bangunan, pintu dan jendela yang hanya menyisakan rangka, hingga berbagai tanaman yang tumbuh liar hingga menutupi bangunan.

Selain diklaim sisa peninggalan VOC, Rumah Cimanggis juga diklaim jadi satu bagian perkembangan kawasan Depok. Dibangun sekitar tahun 1771-1775, keberadaan rumah tersebut dinilai menjadi bagian dari perkembangan ekonomi Depok.

Namun rumah ini belum masuk dalam daftar cagar budaya. Ketua Heritage Depok Community (HDC) Ratu Farah Diba mengatakan, padahal rumah tersebut punya nilai historis yang tinggi dan sudah berusia di atas 50 tahun. Cukup memenuhi syarat menjadi bangunan cagar budaya seperti yang diatur dalam pasal 5 huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Karena itu para pemerhati sejarah menolak tegas rencana dirobohkannya bangunan tersebut untuk pembangunan UIII di atas lahannya.

Hal berebeda justru dinyatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Seperti dilansir dari Detikcom, JK meyebut keberadaan rumah tersebut tak perlu dibanggakan. Ia bahkan menyebut rumah tersebut milik penjajah korup.

“Rumah itu rumah istri kedua dari penjajah yang korup. Masak situs itu harus ditonjolkan terus. Jadi, rumah istri kedua gubernur yang korup, masak mau menjadi situs masa lalu," kata JK.

Menurutnya, pembangunan kampus UIII adalah upaya membangun situs masa depan sehingga tidak dipertentangkan dengan bangunan yang jadi situs masa lalu.

"Kita melihat masa depan bagaimana kita membikin Islam yang moderat, wasatiyah di Indonesia yang mempunyai pengaruh luas. Jangan terpengaruh dengan isu rumah istri kedua orang Belanda yang korup. Apa yang mesti dibanggain?" katanya.

Ia juga menegaskan, pembangunan UIII tidak mengambil seluruh wilayah rumah peninggalan Belanda tersebut. Lahan yang akan digunakan hanya berkisar 15-20 persen dari seluruh jumlah lahan. 
Melihat dari Dekat Rumah VOC CimanggisTanaman liar memenuhi bangunan kuno yang dikenal sebagai Rumah Cimanggis. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Menanggapi pernyataan JK itu, sejarawan JJ Rizal menyatakan, jika tolak ukurnya adalah bekas bangunan VOC yang korup, seharusnya museum sejarah Jakarta dan area Kota Tua pantas dirobohkan.

“Robohin aja Istana Merdeka, itu istananya gubernur jenderal kolonialis londo, ancurin Istana Bogor karena rumah peristirahatan gubernur jenderal kompeni, gusur museum sejarah Jakarta dan seluruh area kota tua itu sarang VOC yang korup,” kata Rizal dalam akun Twitternya.

Ia juga menyebut Benteng Roterdam di Makassar, kota asal JK, juga pantas dirobohkan karena simbol kolonisasi kompeni yang dipimpin Speelman yang korup.

Warga Tak Tahu

Purwanto, seorang pegawai di Kompleks Pemancar RRI ini menceritakan, rumah Cimanggis tersebut pernah ditempati oleh 13 keluarga yang merupakan karyawan RRI.

Kala itu, kata Purwanto, belum ada rumah dinas bagi karyawan RRI. Sehingga rumah Cimanggis yang memang terletak di kompleks pemancar RRI akhirnya dimanfaatkan bagi tempat tinggal karyawan.

"Disekat-sekat buat karyawan, tapi tengahnya itu kosong, buat gudang," kata Purwanto saat ditemui CNNIndonesia.com.

Dari cerita yang didengarnya, kata Purwanto, belum pernah ada renovasi terhadap bangunan rumah Cimanggis dari sejak dibangun hingga ditempati dan ditinggalkan oleh karyawan RRI.

Penambahan bangunan hanya berupa kamar mandi yang terletak di samping dan di bagian belakang rumah.

Purwanto mengungkapkan, bangunan rumah Cimanggis terlihat semakin menjadi tidak terawat setelah tidak lagi dihuni oleh para karyawan RRI, hingga akhirnya dua atau tiga tahun yang lalu atap bangunannya pun roboh.
Melihat dari Dekat Rumah VOC CimanggisPilar-pilar bangunan masih tegak berdiri, namun atap Rumah Cimanggis sudah runtuh. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Menurut Purwanto, selama ini tidak banyak orang yang datang untuk melihat bangunan rumah Cimanggis, padahal rumah Cimanggis disebut-sebut sebagai bangunan bersejarah.

Orang baru mulai berdatangan dan melihat bangunan rumah Cimanggis, ketika pemberitaan tentang rumah Cimanggis akan dirobohkan untuk dibangun UIII ramai diperbincangkan.

Di sisi lain, kata Purwanto juga tidak pernah ada tindakan dari pemerintah daerah terhadap bangunan itu.

Sementara itu, Adi, salah seorang warga yang tinggal di dekat lokasi rumah Cimanggis mengaku tak tahu pasti soal sejarah rumah Cimanggis tersebut.

Dia hanya tahu jika bangunan rumah Cimanggis tersebut merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda, namun kapan bangunan itu didirikan dan dimiliki oleh siapa, ia mengaku tak tahu.

Adi menuturkan, yang ia ketahui, dulunya bangunan rumah Cimanggis pernah dimanfaatkan oleh RRI sebagai tempat tinggal karyawannya. Warga selama ini juga tak terlalu memusingkan keberadaanya.

"Pernah masuk, tapi enggak lama, seram, terus katanya juga ada ular, jadi ya cuma masuk saja," ujarnya.

Bukan cuma soal ular, banyak cerita menyeramkan dari mulut ke mulut perihal rumah tua tersebut.

Warga yang lain Widya, juga mengaku tak tahu pasti soal sejarah rumah Cimanggis tersebut.

"Yang saya tahu itu disebutnya gedung gede kalau di sini, pokoknya peninggalan Belanda tapi peninggalan VOC atau bukan saya enggak tahu," katanya. (sur)